Prahara Bom Bunuh Diri di Mata Provokator Perdamaian

Prahara Bom Bunuh Diri di Mata Provokator Perdamaian

SKETSA - Prahara bom bunuh diri yang dilakukan keluarga Dita Supriyanto di tiga gereja Surabaya pada Minggu (13/5) hingga ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo dini hari tadi, Senin, (14/5) membuat Demisioner Ketua Klinik Etik dan Hukum FH Unmul sekaligus kader perwakilan Kaltim dalam ajang Interfaith Youth Camp Ambon (provokator perdamaian) 2018, Febrianus Felis turut angkat bicara. Alih-alih intoleransi antar umat beragama, Felis menilai, peristiwa tersebut adalah murni tindakan terorisme.

"Jangan sampai peristiwa teror ini membuat masyarakat yang pluralis menjadi curiga berlebihan akibat direduksinya isu teror menjadi isu intoleransi keagamaan oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa," katanya saat dihubungi Sketsa.

Felis menerangkan, segenap aparat keamanan, pemerintah, serta masyarakat, bahkan Unmul sebagai institusi pendidikan, perlu menyikapi persoalan ini secara serius dan tegas. Harus diusut tuntas siapa dalang di balik peristiwa biadab ini. Sebab, kata Felis, tak ada jaminan teror bom tak terulang kembali di kemudian hari. Dan, jika pemerintah masih tenang-tenang saja, bukan tidak mungkin Samarinda dan Kaltim menjadi sasaran teror berikutnya.

Menyoroti kinerja Pemprov Kaltim, Felis menyayangkan tidak adanya langkah dari pemerintah untuk bersolidaritas dengan menggandeng masyarakat untuk menyatakan sikap bersama. Pemprov bagi Felis, menunjukkan sikap acuh tak acuh. Padahal, 2016 silam, Samarinda pernah mengalami peristiwa serupa.

"Kita perlu menyiapkan strategi dengan melibatkan peran serta dari masyarakat dan pemuda untuk mendukung stabilitas keamanan Bumi Etam. Tapi, tidak ada tanda-tanda (Pemprov Kaltim) untuk turut merespons peristiwa ini, minimal menggandeng organisasi mahasiswa maupun masyarakat kota Samarinda," keluhnya.

Sebagaimana yang telah banyak dikampanyekan, Felis pun mengimbau kaum muda untuk bijak dalam menanggapi tragedi ledakan bom. Jangan sampai perspektif yang dibangun di lingkaran mahasiswa dan pemuda terhadap tindakan terorisme terjebak pada isu-isu keagamaan, karena hanya akan memperkeruh suasana. Pemuda harus menjadi garda terdepan untuk terus melakukan perlawanan kepada terorisme menyebar melalui tulisan, maupun doktrinisasi kepada masyarakat.

Lebih lanjut mahasiswa Hukum Unmul itu mengatakan, pentingnya menjaga kekondusifan dengan setidaknya tidak ikut-ikutan menyebar hoaks maupun seruan ketakutan.

"Pemuda dan mahasiswa juga harus terus melakukan kegiatan yang tujuannya merawat kebhinekaan dan menjaga tali silaturahmi antar umat beragama agar tidak mudah terprovokasi ketika ada isu terorisme, radikalisme."

"Nilai-nilai pluralisme, Pancasila, dan kebangsaan harus terus ditanamkan dan diperkuat lewat berbagai agenda akademik maupun non akademik. Karena nilai-nilai Pancasila adalah nilai fundamental untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa," pungkasnya.

Mitha Sari, mahasiswi Faperta Unmul yang juga perwakilan Kaltim dalam ajang Interfaith Youth Camp 2018 turut menyampaikan rasa dukanya atas tragedi bom yang terjadi.

"Duka Surabaya adalah duka kita semua, bangsa Indonesia. Perdamaian tidak dapat dicapai melalui kekerasan, hanya dapat dicapai melalui pemahaman. So, nothing can bring you peace but yourself. Tidak ada yang bisa membawamu menuju ketenangan melainkan dirimu sendiri," tandasnya. (mer/aml)