Berita Kampus

Lagi, Pemira FMIPA Berakhir Aklamasi

Pemira FMIPA Berakhir aklamasi seperti tahun sebelumnya.

Sumber Gambar: Istimewa

SKETSA – Setelah melalui proses panjang, akhirnya pada (27/12/2019) lalu, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) laksanakan kegiatan pemilihan Presiden BEM dan Wakil Presiden BEM FMIPA.

Ditemui Sketsa pada Jumat (20/12) lalu, M. Sigit Ariski selaku Ketua KPPR menjelaskan bahwa pemira tahun ini berakhir aklamasi seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Dari kami (KPPR) sebenarnya mau mengikuti tahun lalu seperti melawan kotak kosong, tapi dari DPM mengusulkan untuk aklamasi, karena kalo tetap mau dilanjutin takutnya bertabrakan dengan UAS. Jadi, langsung diumumin di kongres saja,” ujarnya.

Pelaksanaan Pemira FMIPA sendiri sempat menemui berbagai kendala, perubahan timeline salah satunya.

“Sebenarnya dari KPPR sudah menjadwalkan tahapan Pemira, seperti kapan debat paslon, melakukan kampanye, dan menyampaikan visi-misi. Tapi karena paslon 01 gugur verifikasi berkas dan yang lolos hanya paslon 02. Akhirnya timeline yang sudah dijadwalkan jadi dibatalkan,” tutur mahasiswa Kimia angkatan 2018 ini.

Selain itu, Sigit juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pemira tahun ini. Karena sebenarnya, KPPR sudah merencanakan dengan matang dan berusaha untuk Pemira tahun ini tak berakhir aklamasi. Namun nyatanya masih ada bakal pasangan calon yang gugur verifikasi berkas.

Salah satu bakal calon tersebut tak lolos karena tidak memenuhi persyaratan pencalonan, yakni masih menempuh semester 3. Dalam AD/ART disebutkan bahwa syarat untuk mencalonkan diri adalah minimal menempuh semester 5.

“Semoga Pemira tahun depan, mahasiswa FMIPA mau mencalonkan. Sehingga paslonnya lebih dari satu, dan untuk lebih memperhatikan lagi syarat-syarat yang berlaku,” harapnya.

Sketsa kemudian menemui Igor Levi Satriani, Presiden BEM FMIPA yang terpilih secara aklamasi. Kepada Sketsa, dirinya mengungkapkan kegundahannya.

“Pemira tahun ini, sangat tidak jelas dikarenakan dari KPPR nya sendiri yang tidak ada follow up ke kami. Sehingga dari kami bertanya-tanya tentang kelanjutan Pemira sendiri,” ungkap mahasiswa Jurusan Fisika angkatan 2017 itu.

Menurutnya sangat susah untuk melawan aklamasi di FMIPA, karena kesan yang terbentuk seperti sibuk dengan praktikum dan laporan. Bagi Igor, organisasi merupakan wadah untuk bermain politik. Tapi mungkin karena faktor lingkungannya sendiri yang mengakibatkan mahasiswa tidak tertarik dengan organisasi.

"Organisasi itu memerlukan pemikiran yang masih segar, tapi dari birokrat menerapkan peraturan untuk mahasiswa semester 1 dan 2 tidak diperbolehkan untuk mengikuti organisasi, sehingga menurutnya peraturan inilah yang membuat mahasiswanya malah menjauhi organisasi,” terangnya.

Igor pun juga menghimbau agar Pemira tahun depan, mahasiswa FMIPA bisa berkontribusi lebih. Apalagi keterlibatan aktif dalam BEM tahun ini mengalami kemunduran yang drastis. 

“Mungkin hal kecilnya seperti meramaikan, sehingga kita bisa merasakan tantangan demokrasi itu seperti apa. Karena kalau terus-terusan aklamasi, ini seperti mematikan pesta demokrasi,” tambahnya.

Selain itu ia juga berharap untuk KPPR untuk meningkatkan komunikasi kepada paslon, kemudian DPM dapat lebih lebih memonitor jalannya Pemira. “Karena dari saya sendiri itu gak enak sama paslon lain kalo tiba–tiba saya maju secara aklamasi,” tutupnya. (ina/wil)



Kolom Komentar

Share this article