logo logo

Suara Kritis & Edukatif Mahasiswa

Universitas Mulawarman

Kontak Redaksi LPM SKETSA

Call: +6285159630227

sketsaunmul@gmail.com
Berita Kampus

Efisiensi Bimbingan Skripsi: Kebijakan Satu Dosen Pembimbing Diterapkan Beberapa Prodi di Unmul

Kebijakan satu dosen pembimbing.

Sumber Gambar: Istimewa

SKETSA - Kebijakan satu dosen pembimbing dalam skripsi menjadi salah satu upaya efisiensi bagi mahasiswa. Itu tengah diterapkan oleh beberapa fakultas di Unmul. Seperti beberapa program studi (Prodi) di FISIP dan FIB, alih-alih banyak fakultas yang masih menerapkan dua dosen pembimbing.

Momok skripsi pada semester akhir, kerap menyebabkan mahasiswa memperpanjang waktu kelulusannya. Bahkan tidak jarang ada yang drop out karena skripsi yang tidak terselesaikan.

Di antara kesulitan dalam pengambilan data, dan referensi yang kurang, proses bimbingan skripsi menjadi faktor kunci. Pasalnya relasi yang dibangun antara mahasiswa dan dosen pembimbing mengalami dinamika yang beragam dan penuh cerita.

Sketsa berkesempatan untuk mewawancarai Rina Juwita, selaku Ketua Prodi Ilmu Komunikasi (Ilkom) pada Selasa (18/10) lalu. Selain sebagai bentuk efisiensi proses bimbingan, Rina menyebut dibuatnya aturan ini juga dikarenakan kurangnya dosen tetap yang dimiliki oleh Prodi Ilkom.

"Berdasarkan pengalaman sebelumnya sering kali Prodi harus menunjuk dosen luar Prodi yg kerap memiliki mazhab keilmuan yang berbeda. Sehingga terkadang tidak banyak membantu mahasiswa dalam menyelesaikan skripsinya sesuai timeline yang seharusnya. Oleh sebab itulah mengapa satu pembimbing menjadi opsi."

Keputusan ini sudah diterapkan Prodi Ilkom sejak 2021 dan akan terus ditinjau setiap saat, agar dapat memberikan hasil positif sampai menemukan formula baru untuk mengatasi hambatan yang muncul dalam proses penyelesaian skripsi. 

Ihwal efektivitas penerapan satu dosen pembimbing untuk satu mahasiswa ini, kerap kali bersinggungan dengan perbedaan tugas antara pembimbing satu dan dua. Rina menjelaskan bahwa hal seperti itu jarang terjadi di Prodi yang ia nakhodai.

"Karena keterbatasan jumlah dosen dan harus mengambil dari luar prodi, maka yang terjadi dosen luar prodi menyerahkan sepenuhnya dengan dosen prodi. Oleh sebab itu, kenapa tidak kita efisienkan saja sekalian," pungkasnya.

Dheandra Audya, salah satu mahasiswa Prodi Ilkom angkatan 2018 mengaku bahwa satu dosen pembimbing baginya lebih mempermudah proses bimbingan. Pertimbangannya tak jauh-jauh dari saran dan keputusan dari satu kepala akan lebih mudah diterima.

"Sehingga tidak akan terlalu sulit, jika dosennya memang butuh A, ya akan dikerjakan sesuai dengan yang beliau inginkan. Berdasarkan pandangan teman-teman juga jika ada dua dosen pembimbing itu tidak praktis, karena ada dua kepala yang berbeda isi yang harus disatukan," jelas Dheandra kepada Sketsa pada Rabu (19/10) lalu.

Selain Prodi Ilkom, Prodi Psikologi juga menetapkan kebijakan yang serupa. Namun, pada Prodi Psikologi diketahui berlaku untuk angkatan 2018. Hal ini guna penyelesaian skripsi angkatan 2018 lebih cepat. Itu turut disampaikan oleh Putri Yustisia sebagai salah satu mahasiswa Prodi Psikologi angkatan 2018.

"Angkatan 2018 itu ada programnya sendiri yang bernama #2021LulusBareng dan tujuan Kaprodi  membuat program ini adalah agar mahasiswa 2018 ini pelaksanaan skripsinya lebih cepat. Hal ini karena angkatan-angkatan atas saat ini masih banyak jadi angkatan 2018 dibuat satu pembimbing agar lebih memudahkan mahasiswa," kisahnya kepada Sketsa pada Rabu (19/10) lalu.

Serupa dengan Dheandra, Putri melihat bahwa satu dosen pembimbing lebih efisien dibandingkan dengan memiliki dua dosen pembimbing. Sebab dengan adanya dua dosen pembimbing akan berpotensi terjadi perbedaan pendapat yang cukup menyulitkan.

Berbeda dengan Afiq Izzuddin, salah satu mahasiswa Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran angkatan 2018, justru lebih senang dengan adanya dua dosen pembimbing. Terlebih Fakultas Kedokteran hingga saat ini masih menerapkan kebijakan menggunakan dua pembimbing untuk satu mahasiswa. Afiq menilai akan mendapatkan perspektif yang berbeda dari kedua dosen.

"Tapi dari dosennya juga harus komunikatif, kalau dosennya komunikatif dan solutif, mau satu atau dua juga bakal sama-sama enak," kuncinya pada Senin (17/10/22). (rvn/wuu/ani/khn)



Kolom Komentar

Share this article