Catatan Pemira FEB, Paslon Ngaret Hingga Kurangnya Atensi Mahasiswa

Catatan Pemira FEB, Paslon Ngaret Hingga Kurangnya Atensi Mahasiswa

Debat kandidat paslon pemira FEB. (Sumber gambar: Khairunnisa)

SKETSA - Usai kampanye akbar Jumat (4/10) lalu, kini Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmul memasuki babak debat kandidat. Debat kandidat kali ini bertemakan “Mengoptimalkan Peran FEB Bersama Civitas Akademika Kampus Demi Terwujudnya FEB yang Aktif, Kreatif, dan Berprestasi” yang dilaksanakan pada Sabtu (5/10) di gedung Dekanat FEB Unmul lantai 3.

Debat kandidat yang pertama sekaligus merupakan debat pamungkas sebelum hari pemilihan pada tanggal 9 Oktober mendatang ini menyisakan sejumlah catatan.

Berbagai macam aspek disajikan dalam sesi debat yang melibatkan pasangan calon (paslon) nomor urut satu yakni Achmad Naim Najib dan Muhammad Ramdhan Hadi Nata, serta Syaprudin dan Desy Alcivionita sebagai paslon nomor urut dua. Mulai dari masalah substansial internal FEB, kondisi perekonomian di Kalimantan Timur (Kaltim) hingga relasi program unggulan masing-masing calon dengan visi dan misi Gubernur Kaltim untuk membangun Kaltim turut dihadirkan oleh para panelis.

Sejumlah akademisi turut hadir untuk menyaksikan debat kandidat paslon Gubernur dan Wagub, seperti Rachmad Budi Soeharto, selaku Sekretaris Program Doktor di FEB sekaligus Dosen S1 Ilmu Ekonomi turut berperan serta sebagai panelis dalam sesi debat.

Turut pula hadir beberapa pendukung masing-masing calon lengkap dengan spanduk berisi dukungan. Debat kandidat ini terdiri dari lima babak, yakni pertanyaan dari para panelis yang berjumlah tiga orang, pertanyaan dari para hadirin khusus paslon nomor satu, pertanyaaan hadirin khusus untuk paslon nomor dua, serta sesi terakhir yaitu pertanyaan para hadirin untuk kedua paslon.

Masing-masing calon beradu tentang program kerja masing-masing. Dimulai dari paslon nomor satu yang menawarkan kartu serbaguna yang dapat digunakan untuk bertransaksi di lingkungan FEB hingga paslon nomor dua dengan program perbaikan literasi. Tak jarang masing-masing pendukung berteriak riuh dan bertepuk tangan usai paslon selesai berbicara.

Waktu dua puluh menit yang disediakan pada setiap sesi mampu dipergunakan dengan baik oleh masing-masing paslon, mengingat ini adalah debat pertama, berbagai macam perspektif pertanyaan dari para panelismulai dari permasalahan di FEB, pelayanan demokrasi, hingga pertanyaan yang dilontarkan dalam Bahasa Inggris pun mampu diselesaikan tanpa waktu berlebih.

Namun, berjalannya debat kandidat pada hari itu bukannya mulus tanpa catatan. Pada sesi debat yang melibatkan tanya-jawab paslon dengan audiens, Siti, mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Sosial Pembangunan (IESP) 2016 menyayangkan jawaban paslon yang kurang memuaskan.

“Waktu ditanya mengenai keluhan UKT mahal yang sering santer terjadi di kampus, jawabannya terlalu diplomatis. Beberapa kali juga salah satu paslon terlihat gugup dalam menanggapi pertanyaan. Saya merasa debat ini masih kurang persiapan.”

Pun demikian, Azhar Karim, Ketua Komite Penyelenggara Pemira Raya (KPPR) menyayangkan mulainya debat yang mundur satu jam karena salah satu paslon datang terlambat, hingga minimnya partisipasi mahasiswa FEB dalam pemilihan raya (pemira).

“Konsep KPPR sendiri baru tahun ini digunakan di FEB karena tahun-tahun sebelumnya panitia pemira itu langsung dari DPM. Karena beberapa panitia merupakan anggota baru, jadi ada sedikit kendala dalam mempersiapkan susunan acara," ujar pria yang sempat menjadi Ketua Panitia Pengawas (Panwas) Pemira FEB tahun lalu ini.

Jumlah pengguna hak suara pada 9 Oktober nanti pun turut dikhawatirkan oleh Karim. Mengingat pada tahun-tahun sebelumnya antusiasme mahasiswa FEB terhadap pemira sendiri tidak terlalu besar. “Kami sendiri sudah sosialisasi kepada mahasiswa, dan kami berharap semoga saja atensi dari mahasiswa tahun ini akan lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu,” tutupnya. (nis/kus/wuu/omi/rpi/erp/len/pil/hlm/els)