Berencana Ledakkan DPR RI, Aksi Terorisme Unri Dilakukan Alumni

Berencana Ledakkan DPR RI, Aksi Terorisme Unri Dilakukan Alumni

SKETSA - Sabtu, (2/6) aksi terorisme kembali menyeruak ke permukaan. Kali ini bahkan terjadi di lingkungan kampus, tepatnya di Universitas Riau (Unri) dan dimotori tiga orang alumni. Beruntung, aksi peledakan yang rencananya akan dilakukan di Gedung DPR RI dan DPRD Provinsi Riau itu berhasil digagalkan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan, akan diledakkan di DPRD dan DPR RI," kata Kapolda Riau Irjen Pol. Nandang dalam keterangan pers di Pekanbaru, Sabtu malam.

Dalam operasi, Densus 88 Antiteror berhasil mengamankan seorang pelaku bersama dua bom pipa besi, bahan peledak jenis TATP siap pakai, bahan peledak pupuk KN03, sulfur, gula, dan arang, sepucuk senapan angin, dua busur panah, delapan anak panah, dan granat rakitan.

Pelaku berinisial MNZ (33), yang tak lain adalah alumni Unri diamankan dari dalam Gedung Gelanggang Mahasiswa, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unri. MNZ detik itu juga langsung ditetapkan statusnya sebagai tersangka.

Penangkapan MNZ, kata Nandang, merupakan pengembangan atas keterangan dua orang terduga teroris yang diringkus sebelumnya, yakni berinisial RB alias D dan OS alias K. Keduanya juga merupakan mantan mahasiswa di univesitas yang sama dengan pelaku.

Nandang menyebut ketiga terduga tersebut merupakan alumni Jurusan Administrasi Pariwisata, Ilmu Komunikasi dan Administrasi Negara Unri pada tahun angkatan 2002, 2004, dan 2005.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Setyo Wasisto mengatakan MNZ memiliki kemampuan merakit bom TATP. Ia membagi keahliannya itu di tautan grup media sosial Telegram. Namun, Setyo tidak menjelaskan dari mana kemampuan tersebut didapat MNZ.

Sementara itu, Dekan FISIP Unri Syafri mengaku tidak mengetahui apa yang terjadi. "Saya baru datang waktu itu," ujarnya dikutip dari Tirto.id.

Syafri mengaku terkejut dengan adanya penggeledahan oleh petugas Densus 88 bersenjata lengkap. Sebab menurutnya tidak ada hal mencurigakan dalam gelanggang mahasiswa itu.

"Selama ini tidak ada mencurigakan di sana kami pun terkejut," ujarnya singkat.

Presiden BEM FISIP Unmul Andi Muhammad Akbar mengatakan aksi terorisme apa pun motifnya tak dapat ditoleransi. Teorisme, kata Akbar, adalah tindakan di luar batas yang menerabas nilai-nilai perikemanusiaan.

Mahasiswa menjadi agen penting untuk melawannya, bukan justru menjadi dalang atau korban tanpa disadari dengan melibatkan diri dalam aktivitas terkutuk ini.

"Mahasiswa harus menyaring segala informasi yang dia terima. Termasuk ajakan atau doktrin, ya. Kampus juga harus menjadi contoh pengamalan nilai-nilai kebhinnekaan, tidak tutup mata," kata Akbar di sela-sela aksi lilin untuk korban teror di Surabaya dan Sidoarjo pada Sabtu malam, (5/5) di simpang empat mal Lembuswana. (aml/wil)