Karhutla Merenggut Semua Esensi dan Tatanan Kehidupan Makhluk Hidup
Karhutla bukan hanya menghancurkan apa yang terlihat, tetapi juga merusak keseimbangan alam yang selama ini menopang kehidupan
Sumber Gambar: Kaltim Today
Musim kemarau yang berkepanjangan bukan sekadar persoalan udara panas dan tanah yang mengering. Di balik teriknya matahari, terdapat ancaman yang perlahan membesar, mengubah hutan menjadi lautan api, merusak tempat tinggal satwa, bahkan merenggut nyawa manusia.
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menjadi persoalan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama ketika api terus menjalar dan dampaknya meluas hingga ke pemukiman warga. Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kelestarian alam, melainkan juga keselamatan manusia dan keberlangsungan kehidupan makhluk lain.
Kondisi kemarau yang berkepanjangan membuat vegetasi kehilangan kelembaban sehingga lebih mudah terbakar. Semak belukar, dedaunan kering, dan lahan gambut dapat menjadi bahan bakar yang mempercepat penyebaran api.
Ketika kebakaran terjadi, angin dapat membawa api meluas ke kawasan lain, sementara asapnya menyebar hingga ke permukiman. Namun, Karhutla tidak selalu terjadi secara alami.
Pembukaan lahan dengan cara membakar, kelalaian manusia, dan lemahnya pengawasan juga dapat menjadi pemicu. Oleh karena itu, musim kemarau tidak seharusnya dijadikan satu-satunya alasan untuk menjelaskan mengapa kebakaran terus berulang.
Dampak Karhutla juga dirasakan oleh makhluk hidup yang menjadikan hutan sebagai rumahnya. Orang utan, yang banyak ditemukan di hutan Kalimantan dan Sumatra, merupakan salah satu satwa yang terancam ketika habitatnya terbakar. Api dapat menghancurkan pepohonan tempat mereka berlindung, mencari makan, dan membesarkan anak.
Ketika habitat rusak, orang utan terpaksa berpindah untuk mencari sumber makanan dan tempat yang lebih aman. Perpindahan tersebut dapat meningkatkan risiko konflik dengan manusia, terutama ketika satwa memasuki kebun atau kawasan pemukiman.
Orang utan bukan satu-satunya korban; Bekantan, beruang madu, rusa, berbagai jenis burung, reptil, dan satwa kecil lainnya juga menghadapi ancaman kehilangan habitat, luka bakar, hingga kematian.
Lebih jauh lagi, kerusakan hutan tidak berhenti ketika api padam. Hilangnya vegetasi dapat mengganggu rantai makanan, mengurangi tempat berkembang biak satwa, serta menghambat pemulihan ekosistem.
Pada lahan gambut, kebakaran bahkan dapat berlangsung di bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan. Kerusakan tersebut juga melepaskan emisi karbon ke atmosfer dan memperburuk kualitas udara. Dengan demikian, karhutla bukan hanya menghancurkan apa yang terlihat, tetapi juga merusak keseimbangan alam yang selama ini menopang kehidupan.
Dampak kebakaran terhadap manusia pun tidak kalah memprihatinkan. Di Kalimantan Barat (Kalbar), seorang guru dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami sesak napas yang dikaitkan dengan paparan asap kebakaran. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa asap bukan sekadar gangguan yang membuat mata perih atau jarak pandang berkurang.
Paparan asap kebakaran dapat memperburuk gangguan pernapasan dan menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan masalah pernapasan termasuk kelompok yang rentan. Di balik kabut asap yang menyelimuti suatu wilayah, terdapat kehidupan yang dapat terancam tanpa harus bersentuhan langsung dengan api.
Duka akibat kebakaran juga terjadi di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim). Kebakaran pemukiman yang menimpa keluarga seorang ustaz mengakibatkan meninggalnya sang ustaz bersama dua anaknya. Peristiwa tersebut meninggalkan kehilangan mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Meskipun kebakaran permukiman memiliki konteks dan kemungkinan penyebab yang berbeda dari Karhutla, keduanya memperlihatkan betapa cepatnya api berubah menjadi tragedi. Satu peristiwa memperlihatkan ancaman asap dan kerusakan lingkungan, sedangkan peristiwa lainnya menunjukkan betapa pentingnya keselamatan di dalam rumah.
Kedua peristiwa tersebut tidak boleh dicampuradukkan seolah-olah memiliki penyebab yang sama. Karhutla berkaitan dengan kondisi lahan, cuaca, dan sumber pemicu api, sedangkan kebakaran permukiman dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan instalasi listrik.
Namun, keduanya menghadirkan pertanyaan yang sama: Sejauh mana kita benar-benar mempersiapkan diri untuk mencegah kebakaran dan melindungi kehidupan? Apakah kita baru akan bertindak ketika hutan telah hangus, satwa kehilangan habitat, udara dipenuhi asap, dan korban jiwa berjatuhan?
Pencegahan seharusnya dimulai sebelum kebakaran terjadi. Pemerintah perlu memperkuat pemantauan kawasan rawan, meningkatkan kesiapan petugas pemadam, serta menindak praktik pembakaran lahan yang melanggar hukum.
Masyarakat juga perlu memahami bahaya menyalakan api di kawasan kering dan mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menemukan titik kebakaran. Selain itu, perlindungan terhadap satwa liar perlu menjadi bagian dari penanganan karhutla, termasuk pemulihan habitat dan penanganan satwa yang terdampak.
Di lingkungan permukiman, pemeriksaan instalasi listrik, penyediaan jalur evakuasi, dan edukasi keselamatan kebakaran juga tidak boleh diabaikan.
Kita tidak dapat mengendalikan seluruh perubahan cuaca, tetapi kita dapat mengurangi risiko yang memperbesar dampak bencana. Hutan tidak seharusnya dipandang hanya sebagai hamparan pepohonan, sebab di dalamnya terdapat kehidupan yang saling bergantung.
Ketika hutan terbakar, orang utan kehilangan tempat berlindung, burung kehilangan sarang, tumbuhan kehilangan kesempatan untuk tumbuh, dan manusia menghadapi ancaman asap serta kerusakan lingkungan. Kehilangan tersebut saling berkaitan dan dapat berlangsung jauh setelah api berhasil dipadamkan.
Pada akhirnya, kebakaran bukan sekadar persoalan api yang membesar ketika musim kemarau tiba. Ini adalah persoalan tanggung jawab terhadap lingkungan, satwa, dan sesama manusia. Pepohonan mungkin dapat ditanam kembali, habitat mungkin dapat dipulihkan secara bertahap, dan rumah yang terbakar mungkin dapat dibangun kembali.
Namun, pemulihan membutuhkan waktu dan tidak selalu dapat mengembalikan keadaan seperti semula. Terlebih lagi, nyawa manusia dan satwa yang telah hilang tidak dapat begitu saja digantikan.
Jangan sampai setiap musim kemarau hanya meninggalkan cerita yang sama: Hutan menghitam, satwa kehilangan rumah, asap menyelimuti permukiman, dan keluarga berduka karena kehilangan orang tercinta.
Sebab, ketika api membakar hutan, yang musnah bukan hanya pepohonan, melainkan juga ruang hidup berbagai makhluk.
Ketika api merenggut nyawa manusia, yang tersisa bukan sekadar abu, melainkan kehilangan yang akan terus dirasakan. Sudah saatnya pencegahan menjadi tindakan nyata, bukan sekadar janji setelah bencana berlalu.
Opini ini ditulis oleh Anisa Nuraini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Unmul 2024.