Sumber Gambar: Planet Berita
SKETSA - Film bergenre komedi gelap, Tinggal Meninggal, yang disutradarai Kristo Immanuel, bersama Imajinari dan Trinity Entertainment Network sukses membungkus film ciamik dengan premis menarik. Film yang baru rilis tahun kemarin ini dibintangi Omara Esteghlal, Nirina Zubir, Mawar Eva de Jongh, Muhadkly Acho, Ardit Erwandha, Shindy Huang, Mario Caesar, Nada Novia, dan Jared Ali.
Mengisahkan tentang Gema (Omara Esteghlal), pemuda canggung yang mengalami kesepian psikologis dan merasa kurang mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitar. Namun, perubahan terjadi ketika ayah Gema meninggal dunia. Peristiwa ini membuatnya menerima perhatian dan empati dari rekan-rekan kerjanya.
Perhatian kecil atas kabar duka tersebut membuat Gema merasa senang. Sayangnya, perhatian tersebut mulai memudar seiring waktu. Hal itu mendorong Gema untuk kembali mendapatkan validasi sosial yang sempat ia rasakan.
Gema ditampilkan memiliki kesepian psikologis yang disebabkan kurangnya perhatian orang tua dan perundungan verbal oleh teman sekolahnya. Kesepian psikologis merupakan keadaan di mana seseorang merasa tidak terhubung secara emosional, tidak dipahami, atau tidak diterima oleh sekitarnya.
Sepanjang film, Gema ditampilkan sering berbicara dengan diri sendiri, baik secara tidak sadar di hadapan orang lain maupun ketika sendirian di kamar. Perilaku ini dikenal sebagai self talk atau komunikasi intrapersonal, yaitu dialog internal yang mempengaruhi emosi, persepsi diri, dan perilaku individu.
Selain itu, film ini juga menunjukkan ironi yang ditunjukkan lewat Gema. Teman-teman kerja Gema cenderung memberi perhatian ketika dirinya mengalami musibah atau berita duka.
Kecenderungan memberi perhatian hanya ketika berduka terasa ironi, sebab perhatian pada sesama tidak perlu menunggu musibah menyapa. Bagi mereka yang merasakan kesepian seperti Gema, perhatian sederhana dari orang lain terasa sangat spesial.
Terlebih, Gema semakin obsesi mencari simpati dengan berbagai cara. Selain berhasil membawa premis yang tidak biasa, Kristo Immanuel sebagai sutradara menyajikan komedi di beberapa sisi yang tidak berlebihan.
Sesuai porsinya, film ini tidak melewatkan satu bagian pun yang tidak bermakna. Seperti saat Gema merasa kesepian, ia tidur dikelilingi bantal dan guling.
Penyajian gambar ini dilakukan untuk mendukung karakter Gema yang haus akan sentuhan, sebab saat tidur dikelilingi bantal dan guling, ia akan merasa seperti dipeluk. Perasaan tersebut membuatnya merasa aman.
Menjelang akhir cerita, Gema mulai mendapat perhatian terus-menerus akibat kebohongannya. Hal ini ditunjukkan ketika ia tidak lagi tidur dikelilingi banyak bantal dan guling.
Pada akhirnya, film ini menunjukkan bagaimana kesepian psikologis dapat memengaruhi pikiran seseorang. Kisah Gema dapat menjadi pembelajaran untuk mengelola pikiran menjadi lebih positif dan rasional. (mlt/aya)