Pikiran-pikiran luar biasamu adalah cinta
Kalah atau direndahkan bukan kamu
Kau angkat tangan kananmu
Saat tahu
Kau baru mempertaruhkan air mata para-para yang menunggumu lekas usai
Tapi tentu saja senyummu menguatkan
Ia yakinkan bahwa kau
Pemilik jalan yang berbeda
Kau mencintai yang kau ambil
Kau Senang
Kami turut berpesta dengan kebahagiaanmu
Kau Lelah
Kami siap dengan secangkir kata-kata hangat
Memelukmu dalam tiga tujuh seduhan
Kau adalah yang kuat
Namun letih dan sedih adalah hal yang paling adil di dunia
Kau punya banyak waktu untuk tugasmu
Tapi kau
Juga punya waktu untuk menggantungkan sejenak semua itu di belakang pintu kamarmu
Larilah dari kerimunan
Akan ada yang siap di bangku taman malam nanti
Dengan segudang ragi senyum di tangannya
Serta segunduk kebanggaan yang tidak akan pernah mati
Samarinda, 9 Desember 2017
Ditulis oleh Pandu Pratama Putra, mahasiswa Sastra Indonesia, FIB 2014