Tinggal Waktu, Tinggal Tunggu, Tinggal Musnah

Tinggal Waktu, Tinggal Tunggu, Tinggal Musnah

Sumber Gambar: Pexels

Dunia akhir-akhir ini kerap menangis
Senyuman hangatnya tertutup abu kelabu
Ribuan nyawa terbakar membentuk kepulan asap
Meneriakan luka dari atas sana

Manusia yang hidup tuli dalam kesementaraan
Terus mengoyak kulit dan daging semesta sepuasnya 
Bahkan tak ada puas kurasa
Kecintaan akan sepatu penguasa hingga dijilatnya setiap saat

Lumpur dan air kian merintih, mengancam
Padahal terdengar kencang sekali, tapi tak dipedulikan
Lukanya tiap hari diinjak-injak dan diperas limau asam
Rautnya kini muram dan hitam

Manusia itu malah terus menanam duri
Di atas rawa yang hijau hingga ke atas gunung bebatuan, 
maruk sekali
Lupa atau pura-pura lupa, padahal banyak kerjanya yang belum tuntas

Dunia kehabisan suara untuk menjerit
Setiap air mata akan mengering, atau malah terganti darah
Dia tak tahu lagi cara apa tuk sadarkan penghuninya 
Tinggal waktu, tinggal tunggu, tinggal musnah

Puisi ini ditulis oleh Siti Mu’ayyadah, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris FIB Unmul 2022.