16 HAKTP: Perjuangan Perempuan Menghapus Segala Bentuk Kekerasan

16 HAKTP: Perjuangan Perempuan Menghapus Segala Bentuk Kekerasan

Foto: Dokumen Pribadi

Pada Minggu (27/11), Perempuan Mahardhika melakukan Aksi Nasional untuk memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP). Dengan tagline “Negara Menyebabkan Kemiskinan, Dalam Situasi Krisis Perempuan Memikul Beban Lebih Berat”. Aksi tersebut dilakukan di empat titik wilayah di Indonesia, yaitu Jakarta dengan titik aksi di Patung Kuda Arjuna Wiwaha, kemudian Makassar dengan titik aksi di Monumen Mandala – Sudirman, lalu Banjarmasin dengan titik aksi di Patung Bekantan – Siring, dan Samarinda dengan titik aksi di Sungai Mahakam.

Di Samarinda, aksi yang dilakukan Dara Lead dengan massa gabungan bersama Perempuan Aman Lou Bawe dilaksanakan menggunakan kapal klotok untuk berkeliling di sekitar sungai Mahakam. Isu yang diangkat adalah seputar kekerasan seksual, krisis iklim, sahkan RUU masyarakat adat, sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, kekerasan Dalam Rumah Tangga, hingga pernikahan dini.

Peringatan Momen 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan diperingati secara global setiap tanggal 25 November hingga 10 Desember. Tanggal 25 November pun ditetapkan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Mirabal Bersaudara, yaitu Patria Marcedez Mirabal, Minerva Mirabal dan Maria Teresa Mirabal yang dibunuh pada 25 November 1960 karena aktivitas politik melawan dan menggugat kediktatoran rezim Rafael Trujillo di Republik Dominika.

Problem kekerasan terhadap perempuan tak pernah berhenti dan terwujud dalam berbagai bentuk. Bermacam isu yang digaungkan dalam aksi momen 16 HAKTP menyingkap bahwa persoalan perempuan saling berhubungan satu dengan lainnya. Perempuan mengambil peranan penting dalam segala aspek kehidupan yang acapkali dikesampingkan dan dilupakan oleh masyarakat bahkan negara. 

Perempuan dianggap tidak cakap berkarya, padahal tenaganya dihisap tanpa jeda. Momen 16 HAKTP, kolektif perempuan Dara Lead, Perempuan Aman Lou Bawe dan Perempuan Mahardhika menunjukkan bahwa berjuang bersama menyuarakan keadilan tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun untuk seluruh perempuan di dunia. Perlawanan ini juga sebagai tanda bahwa penghapusan kekerasan merupakan isu bersama yang perlu ditegakkan secara berkesinambungan. Berorganisasi sebagai salah satu upaya perempuan untuk melawan ketidakadilan dan bersama-sama mencapai kesetaraan.

Dengan mengangkat ragam isu yang ada di masyarakat, membangun kesadaran setiap perempuan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk terbebas dari diskriminasi dan belenggu patriarki yang menyebabkan kekerasan. Oleh karena kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan merupakan isu bersama, keterlibatan dari berbagai pihak untuk bersama menyuarakan keadilan bagi perempuan menjadi sebuah kunci. Lebih lanjut, kami menuntut kepastian perlindungan bagi pekerja, khususnya perempuan dari segala bentuk.

Press release ditulis oleh Monalisa, Ketua Dara Lead.