Sumber Gambar: Wikimedia.org
SKETSA - Bayangkan suatu pagi yang tampak sepenuhnya biasa. Jalanan dipenuhi kendaraan, orang-orang berangkat bekerja, dan siswa berjalan menuju sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Dunia terlihat stabil, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun di balik ketenangan itu, realitas global sedang bergerak ke arah yang jauh lebih rapuh dari yang kita sadari.
Sejarah telah berulang kali menunjukkan perang besar tidak selalu datang dengan tanda yang jelas. Perang Dunia I dan II bukan hanya hasil kebencian, tetapi akumulasi ketegangan, kesalahan perhitungan, dan kegagalan diplomasi.
Dunia tidak runtuh dalam satu malam, tetapi runtuh karena keputusan-keputusan kecil yang terus diambil tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Hari ini, pola yang sama mulai terlihat kembali.
Ketegangan global, khususnya di kawasan strategis seperti Timur Tengah, memperlihatkan bagaimana dunia masih terjebak dalam dilema lama. Di satu sisi, ada upaya diplomasi, negosiasi, dan tekanan ekonomi untuk meredam konflik. Di sisi lain, ada dorongan kuat menggunakan kekuatan militer sebagai solusi cepat terhadap ancaman, terutama terkait isu sensitif seperti program nuklir.
Hal yang mengkhawatirkan adalah perbedaan strategi yang muncul di antara sekutu. Ada pihak yang ingin menahan eskalasi melalui perundingan, sementara pihak lain justru mendorong tindakan preventif, termasuk kemungkinan serangan militer. Ketidaksamaan arah ini bukan hanya memperlemah stabilitas, tetapi juga membuka ruang kesalahan yang berujung fatal.
Dalam situasi seperti ini, dunia tidak hanya menghadapi konflik, tetapi juga ketidakpastian yang berlapis. Ketika ancaman disampaikan secara terbuka, ketika kekuatan militer diposisikan sebagai alat tawar dan ketika batas waktu diplomasi dipersempit tekanan politik, maka risiko eskalasi menjadi semakin nyata.
Masalah utamanya bukan hanya pada senjata, tetapi pada cara manusia berpikir tentang kekuasaan dan keamanan.
Negara-negara masih beroperasi dalam logika lama. Rasa takut melahirkan penguatan militer. Penguatan militer memicu kecurigaan. Kecurigaan melahirkan perlombaan kekuatan.
Siklus tersebut terus berulang tanpa pernah benar-benar diselesaikan. Dalam kondisi seperti ini, perdamaian bukanlah keadaan yang stabil, melainkan hanya jeda sementara sebelum ketegangan berikutnya muncul.
Ironisnya, semua ini terjadi di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa. Manusia mampu menciptakan sistem canggih, kecerdasan buatan, dan jaringan global yang menghubungkan miliaran orang. Namun pada saat yang sama, manusia juga mempertahankan pola konflik yang tidak banyak berubah sejak ratusan tahun lalu.
Kemajuan tidak otomatis berarti kedewasaan. Kritik terhadap kondisi ini sebenarnya sudah lama muncul, bahkan dalam budaya populer. Film Dr. Strangelove karya Stanley Kubrick menggambarkan absurditas logika perang nuklir.
Dalam film tersebut, kehancuran dunia tidak terjadi karena rencana besar yang matang, tetapi karena keputusan irasional, ego para pemimpin, dan sistem militer yang berjalan tanpa kontrol manusia yang sehat. Satir itu terasa berlebihan saat dirilis, tetapi justru hari ini terasa semakin relevan.
Film tersebut menyampaikan satu hal penting. Dalam sistem yang dipenuhi ketegangan dan senjata mematikan, rasionalitas manusia bukanlah sesuatu yang bisa selalu diandalkan. Kesalahan kecil, keputusan emosional, atau bahkan kegagalan komunikasi bisa memicu konsekuensi yang tidak dapat dikendalikan.
Dalam konteks Indonesia, refleksi semacam ini sering kali terasa lebih jauh, seolah konflik global adalah sesuatu yang terjadi di luar jangkauan. Padahal, dalam dunia yang saling terhubung, dampak konflik tidak mengenal batas geografis. Krisis energi, gangguan ekonomi, dan ketidakstabilan global akan tetap dirasakan, bahkan oleh negara yang tidak terlibat langsung.
Budaya lokal sebenarnya telah lama mengingatkan tentang siklus krisis dan keseimbangan. Kisah seperti Ramalan Jayabaya sering ditafsirkan sebagai gambaran bahwa masa kekacauan adalah bagian dari perjalanan menuju perubahan. Namun, berbeda dengan masa lalu, krisis hari ini memiliki skala yang jauh lebih besar dan konsekuensi yang jauh lebih kompleks.
Indonesia memiliki posisi yang menarik dalam dinamika ini. Tidak berada di garis depan konflik, tetapi juga tidak sepenuhnya terlepas dari dampaknya. Pilihan untuk menekankan diplomasi dan kerja sama internasional menjadi penting, tetapi juga menuntut konsistensi di tengah dunia yang semakin tidak stabil.
Di sinilah letak pertanyaan yang sebenarnya. Apakah dunia benar-benar belajar dari sejarah atau hanya mengulanginya dalam bentuk yang lebih canggih?
Albert Einstein pernah mengatakan bahwa ia tidak tahu dengan senjata apa Perang Dunia III akan diperjuangkan, tetapi Perang Dunia IV kemungkinan akan diperjuangkan dengan tongkat dan batu. Pernyataan ini bukan sekadar kutipan terkenal, melainkan kritik tajam terhadap arah peradaban manusia.
Pesannya jelas. Kemajuan teknologi tidak menjamin keberlangsungan peradaban. Justru tanpa kebijaksanaan, teknologi dapat mempercepat kehancuran.
Membicarakan Perang Dunia III bukan berarti memprediksi masa depan secara pasti, tetapi membaca pola yang sedang terbentuk. Ketika diplomasi mulai kehilangan ruang, ketika kekuatan militer dijadikan solusi utama, dan ketika rasa takut lebih dominan daripada rasionalitas, maka dunia sedang bergerak ke arah yang berbahaya.
Pada akhirnya, isu ini bukan hanya tentang negara, senjata, atau strategi. Ini tentang manusia itu sendiri. Apakah manusia akan terus mempertahankan pola konflik lama dengan alat yang semakin canggih atau mulai membangun cara berpikir baru yang lebih rasional dan berkelanjutan?
Dunia mungkin tidak akan runtuh besok pagi. Orang-orang akan tetap pergi bekerja, sekolah akan tetap berjalan, dan kehidupan akan terlihat normal. Namun di balik normalitas itu, arah masa depan sedang ditentukan.
Dan seperti yang ditunjukkan sejarah, kehancuran besar tidak selalu datang dengan suara keras melainkan dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dianggap biasa.
Opini Ini Ditulis Oleh Abimanyu Putra Nugroho, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro FT Unmul 2025.