Penggunaan AI dan Menurunnya Minat Baca di Kalangan Mahasiswa

Penggunaan AI dan Menurunnya Minat Baca di Kalangan Mahasiswa

Sumber Gambar: Pinterest

Membaca merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan mahasiswa. Di perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mengikuti perkuliahan, tetapi juga harus mampu memperoleh dan mengembangkan pengetahuan secara mandiri. 

Buku, jurnal, artikel ilmiah, dan berbagai sumber bacaan lainnya menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan membaca, mahasiswa dapat menambah wawasan, memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta memahami berbagai persoalan dari sudut pandang yang berbeda. 

Namun, perkembangan teknologi yang semakin pesat telah mengubah cara mahasiswa memperoleh informasi. Salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurut saya, kehadiran AI memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa. AI dapat membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan yang sulit, menemukan ide, mencari penjelasan tambahan, dan membantu menyusun suatu tulisan. Dengan memasukkan pertanyaan tertentu, mahasiswa dapat memperoleh jawaban dalam waktu yang sangat singkat. 

Kemudahan tersebut tentu sangat membantu dalam proses pembelajaran. Akan tetapi, penggunaan AI yang tidak tepat juga dapat menimbulkan persoalan, salah satunya adalah berkurangnya kebiasaan membaca buku di kalangan mahasiswa.

Sebelum teknologi AI berkembang seperti sekarang, mahasiswa lebih banyak mengandalkan buku, jurnal, perpustakaan, dan sumber bacaan lainnya untuk mendapatkan informasi. Ketika mendapatkan tugas, mahasiswa harus mencari referensi dan membaca beberapa sumber untuk memahami permasalahan yang diberikan. 

Proses tersebut memang membutuhkan waktu dan usaha. Namun, melalui proses membaca, mahasiswa belajar memahami isi bacaan, menemukan gagasan utama, membandingkan informasi, dan menarik kesimpulan berdasarkan pemikiran sendiri.

Saat ini, keberadaan AI membuat proses mendapatkan informasi menjadi lebih mudah dan cepat. Mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan kepada AI dan memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Kondisi tersebut dapat menjadi masalah apabila mahasiswa hanya menerima jawaban dari AI tanpa membaca sumber lain dan tanpa memahami informasi yang diberikan. 

Kebiasaan memperoleh informasi secara instan dapat membuat mahasiswa semakin jarang membaca buku karena membaca dianggap membutuhkan waktu dan konsentrasi yang lebih banyak.

Menurut saya, permasalahan tersebut bukan berarti AI merupakan teknologi yang buruk atau harus dihindari oleh mahasiswa. Persoalannya terletak pada cara penggunaannya. 

AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti kegiatan membaca dan berpikir. Mahasiswa tetap perlu membaca buku dan jurnal untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.

Membaca buku memiliki manfaat yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI. Ketika membaca buku, mahasiswa dapat memahami suatu pembahasan secara lebih menyeluruh. 

Mahasiswa juga dapat mengetahui cara penulis menyampaikan pendapat, membangun argumentasi, menggunakan teori, dan memberikan contoh. Proses tersebut dapat melatih kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis dan menyusun pendapat berdasarkan informasi yang diperoleh.

Selain menambah pengetahuan, membaca juga dapat meningkatkan kemampuan berbahasa. Semakin banyak seseorang membaca, semakin banyak kosakata dan struktur kalimat yang dapat dipahami. 

Kemampuan ini sangat penting bagi mahasiswa karena kegiatan akademik tidak terlepas dari menulis makalah, artikel, laporan penelitian, dan berbagai karya ilmiah lainnya. Oleh karena itu, berkurangnya kebiasaan membaca dapat memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam memahami dan menyampaikan informasi.

Di sisi lain, mahasiswa juga tidak perlu menolak perkembangan AI. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara bijaksana untuk mendukung kegiatan membaca. 

Sebagai contoh, mahasiswa dapat membaca buku atau jurnal terlebih dahulu. Apabila terdapat istilah atau pembahasan yang belum dipahami, mahasiswa dapat menggunakan AI untuk mendapatkan penjelasan tambahan. Setelah itu, informasi yang diperoleh tetap perlu dibandingkan dengan sumber aslinya.

Mahasiswa juga harus berhati-hati dalam menerima informasi dari AI. Jawaban yang diberikan AI tidak selalu dapat dianggap sebagai informasi yang benar tanpa pemeriksaan. 

Oleh karena itu, mahasiswa perlu memeriksa kembali informasi tersebut melalui buku, jurnal ilmiah, atau sumber akademik yang terpercaya. Kebiasaan tersebut justru dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Di lingkungan perguruan tinggi, budaya membaca perlu terus dipertahankan. Mahasiswa Unmul, misalnya, dapat memanfaatkan perpustakaan dan berbagai sumber akademik untuk memperluas pengetahuan. 

Kehadiran AI seharusnya tidak membuat mahasiswa meninggalkan buku dan jurnal. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa menemukan, memahami, dan mengembangkan informasi yang telah diperoleh melalui kegiatan membaca.

Menurut saya, mahasiswa perlu menciptakan keseimbangan antara penggunaan teknologi dan kegiatan membaca. Tidak ada salahnya menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan kesulitan dalam belajar. 

Namun, mahasiswa tetap harus meluangkan waktu untuk membaca dan memahami materi secara mandiri. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh jawaban, tetapi juga memahami proses dan alasan di balik jawaban tersebut.

Pada akhirnya, AI bukanlah musuh bagi budaya membaca mahasiswa. AI dapat menjadi teknologi yang bermanfaat apabila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab. 

Permasalahan muncul ketika kemudahan AI membuat mahasiswa berhenti membaca, malas mencari sumber, dan terlalu bergantung pada jawaban yang diberikan oleh teknologi.

Oleh karena itu, penggunaan AI harus disertai dengan kemampuan membaca dan berpikir kritis. AI dapat membantu mahasiswa menemukan jawaban, tetapi membaca membantu mahasiswa memahami dan menilai jawaban tersebut. 

Perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat mahasiswa meninggalkan kebiasaan membaca. Sebaliknya, mahasiswa perlu menjadi generasi yang mampu memanfaatkan teknologi sekaligus mempertahankan budaya membaca. 

Dengan demikian, AI dapat menjadi sarana untuk mendukung proses pendidikan tanpa menghilangkan peran penting buku sebagai sumber pengetahuan.

Opini ini ditulis oleh Azkia Nadira Puteri, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unmul 2024.