Sumber Gambar: ANTARA FOTO
Semester lalu, Rp5.000 di kantin kampus masih bisa dapat 4 gorengan. Sedang hari ini, uang yang sama hanya dapat 3. Kurang 1 gorengan mungkin terdengar sepele, bahkan tidak cukup penting untuk diumumkan secara resmi. Tahu-tahu saja, yang berkurang bukan hanya jumlah gorengan, tetapi juga nilai uang yang ada di saku. Rugi baru terasa ketika mulut ini hanya bisa menelan lebih sedikit gorengan dari biasanya.
Perubahan kecil kurang bermakna seperti ini sebenarnya berakar pada persoalan yang jauh lebih besar, untuk hari ini. Akarnya dari mata uang kita yang lebih lemah daripada toleransi saya terhadap makanan pedas.
Angka rupiah hari ini sudah banyak dipamerkan kelemahannya dan memang rupiah sedang tidak baik-baik saja. Kita melihatnya di berita, media sosial, hingga kolom komentar yang dipenuhi ramalan tentang seberapa jauh rupiah akan jatuh.
Tapi hal yang lebih menarik daripada angkanya adalah bagaimana cara kita dikondisikan untuk merasakan dampaknya, yang malah ditanggapi sebagai sebuah kegelisahan berlebih dan tidak seharusnya pusing dengan 1 dolar setara Rp17.954,00 rupiah itu. Bahkan sudah menyentuh Rp18.000 per-4 Juni.
Akhirnya, kegelisahan yang sah akan sesuatu yang nyata jadi terasa seperti sikap tidak pada tempatnya. Padahal, kita berhak mempertanyakan apakah kebijakan ekonomi hari ini sedang menyelamatkan rupiah dari dolar atau menyelamatkan masyarakat dari krisis perekonomian.
Masalahnya, keduanya tidak selalu berjalan ke arah yang sama. Ada kalanya kebijakan yang lahir untuk menjaga stabilitas justru memukul telak pada perut masyarakat yang sejak awal tidak pernah ikut menentukan arah pasar.
Artinya, kredit makin mahal, barang makin susah terjangkau, pajak makin besar, harga kebutuhan naik, daya beli melemah, dan biaya hidup semakin berat. Dengan banyaknya perubahan saat ini, orang pertama yang merasakan bukan dari orang yang hidupnya sudah terhubung dengan pasar global.
Justru orang-orang yang bahkan tidak tahu hari ini kursnya berapa, seperti ibu penjual gorengan di kantin, yang tahu-tahu harus mengurangi satu porsi bukan karena keputusannya sendiri.
Padahal ekonomi global tidak butuh izin untuk masuk ke sebuah desa. Kedelai yang jadi bahan tempe sebagian besar diimpor, pupuk yang dipakai petani punya komposisi impor, harga BBM mengikuti harga minyak dunia yang transaksinya pakai dolar.
Semuanya bergerak ketika kurs bergerak dan tidak pernah peduli apakah yang memasak, yang bertani atau yang mengisi bensin itu tahu hari ini kursnya berapa. Mereka tidak pakai dolar, tapi dolar sudah lama tahu jalan menuju dapur dan ladang mereka.
Bagi sebagian besar masyarakat, persoalannya memang tidak pernah sesederhana kurs rupiah terhadap dolar. Mereka tidak membayar makan siang dengan kepercayaan pasar, tidak membeli kebutuhan pokok dengan optimisme investor luar, dan tidak bisa menukar laporan pertumbuhan ekonomi dengan beras di dapur.
Yang mereka butuhkan jauh lebih sederhana: Pekerjaan tersedia, harga terus terjangkau, dan kepastian bahwa pendapatan yang mereka miliki masih cukup untuk menjalani hidup dengan layak.
Dan di sinilah ekonomi berhenti menjadi sekadar urusan angka. Setiap keputusan tentang suku bunga, setiap kebijakan impor, setiap pilihan tentang apa yang "diselamatkan" duluan, semuanya adalah keputusan politik.
Bukan dalam arti sebuah golongan, tapi dalam arti yang paling mendasar tentang siapa yang diprioritaskan dan siapa yang diminta untuk bersabar lebih lama. Oleh karena itu, krisis perekonomian bukan bencana yang datang tanpa wajah.
Ia adalah hasil dari pilihan-pilihan yang dibuat oleh orang-orang tertentu, di ruangan tertentu, untuk kepentingan yang tidak selalu sama dengan kepentingan orang yang antre gorengan di kantin.
Jadi mana yang lebih cepat datang, 19 juta lapangan kerja atau 1 dolar setara 19 ribu?
Yang paling jujur bicara soal ini justru bukan datang dari podium atau konferensi pers, tapi dari masyarakat yang sering dianggap tidak cukup serius untuk dijadikan referensi atau orang-orang biasa yang kadang bicara dengan cara yang lebih telanjang dari banyak pernyataan resmi.
Pada akhirnya, gorengan yang berkurang satu di kantin itu bukan sekadar soal harga. Ia adalah penanda bahwa sesuatu sedang bergerak, diam-diam, di tempat yang jauh dari jangkauan siapapun yang antre di sana.
Kita mungkin tidak pakai dolar. Tapi selama kebijakan dibuat tanpa benar-benar mendengar siapa yang paling menanggung bebannya, dolar akan terus tahu cara memakai kita.
Opini ini ditulis oleh Nabila Rahmadhanti Putri Orfakha, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unmul 2023.