Sumber Gambar: Pinterest
Aku selalu memantau pergerakan makhluk hidup lain melalui seutas tali yang terbentang di atap-atap rimbun. Atau sudah tidak rimbun lagi berkat binatang-binatang –yang katanya tamak– belakangan ini gemar mengusik makhluk hidup lain. Makhluk suci. Ya, aku menyebut selain binatang-binatang yang gemar usik tadi dengan sebutan makhluk suci.
Aku selalu merasa makhluk suci –barangkali seperti diriku ini– adalah komponen-komponen yang mampu menyeimbangkan dunia yang kita tempati. Aku selalu merasa bahwa makhluk suci seperti kami ini adalah unsur-unsur yang mampu mengorganisir dan membangun suatu ekosistem dengan begitu naif.
Ku ingat salah satu makhluk suci yang berayun di atap-atap tinggi kemarin malam. Ia terus memekik bahwa kami ini, bisa jadi hanyalah golongan makhluk suci yang begitu polos tanpa ada kemampuan berpikir dan bernalar yang baik. Itu karena ia melihat binatang-binatang tukang usik semakin menapakkan kakinya melewati selasar teritorial kami.
Teritorial yang seharusnya dianggap suci dengan mengucap jampi-jampi di dalam hati untuk membuka mata, pikiran, dan niat dari hati yang seharusnya tulus dibawa.
“Kita hanya makhluk naif sok superior yang selalu mengedepankan adab! Adab tahi anjing! Sekarang yang kita hadapi adalah binatang-binatang berotak kerdil yang terus mengoyak habis dunia indah kita! Jampi-jampi tidak ada gunanya! Bukan hanya otak saja yang kerdil, namun adab dan welas kasih pun juga kerdil!” ucap makhluk suci dengan mukjizat melayang-layang di atap itu.
“Barangkali mereka mengucap jampi-jampi dengan begitu lirih. Kita tidak mendengar bukan berarti mereka tidak mengucapkannya. Kau hanya diliputi aura merah tanpa dasar, Kong. Ingatkah kau dengan binatang-binatang terdahulu yang begitu santun saat memasuki kawasan ini? Ingatkah kau saat kita semua beriringan dengan begitu selaras?” ucapku mencoba meredakan aura merah yang mengitari dirinya.
“Oh, ya. Benar. Binatang-binatang terdahulu katamu? Yakin itu bukan halusinasi atau ingatan lamban yang kamu miliki? Yang ku tahu adalah mereka para binatang terdahulu dengan santun dan lembut mengucap jampi-jampi di hadapan kita semua, lalu berikutnya membawa perkakas seolah ingin membantu membangun dunia kita, setelahnya menghilang tanpa kabar. Aku tidak menganggap itu sebagai NIATAN untuk beriringan bersama seperti yang kau maksud, aku lebih suka menyebutnya sebagai agenda memetakan kawasan yang ingin mereka usik di kemudian hari!” sentaknya dengan tajam di telingaku secara harfiah.
“Kau bahkan gemetar ketakutan!” sentaknya terakhir kali sebelum pergi meninggalkan diriku sendiri di atas seutas tali.
Aku begitu tidak habis pikir dengan dirinya, aku meyakini bahwa mereka hanya ingin berkenalan dengan dunia indah sejagat raya milik kita ini. Yang kami bangun melalui mobilitas sehari-hari secara alamiah kemudian terbentuk secara tidak terstruktur namun begitu memukau dipandang.
Ya, aku yakini bahwa mereka hanya ingin berkenalan, dan apa yang mereka lakukan sampai-sampai melewati selasar ini semata-mata berasal dari dorongan keingintahuan yang begitu membara di hati mereka. Menerobos masuk untuk mengetahui lebih dalam dan lebih “Detail” lagi.
Kemudian aku merasakan hawa dingin mengitari bagian bawah tubuhku walau dinginnya tidak mampu menguapkan keringat bercucuran di seluruh permukaan kulit. Seutas tali yang menjadi penyangga hidupku terasa memberat sedikit, menandakan ada makhluk suci lainnya yang turut bergabung di atasnya.
“Aku rasa, mereka benar saat mengatakan bahwa aku sebenarnya bukan makhluk suci,” selorohnya sembari menundukkan kepalanya sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya. Namun, biasanya memang tidak dapat dilihat.
“Mengapa berkata begitu? Kau bagian di dalamnya. Kau yang menjaga dunia ini menjadi lebih indah dengan sedikit memberikan sisi magis tersendiri. Angkat bahumu dan percaya dirilah!” ujarku menyemangatinya.
“Jika aku memang salah satu di dalamnya, maka mungkin benar jika kastaku berada di posisi paling bawah. Barangkali menjadi gundik yang dibayar keluar dari zona nyamanku dan merudapaksa serta mengawini jiwa-jiwa yang dijadikan target tuanku. Semua itu aku lakukan hanya untuk seonggok tampah yang mereka letakkan di selasar,” rengeknya dengan nada suara yang terseret-seret.
“Tarik ucapanmu! Di dunia kita yang serba indah ini tidak ada hierarki seperti itu, itu hanya ada di kehidupan para binatang yang ada di bawah kaki kita saat ini. Kau begitu berharga. Ya, benar! Begitu berharga dari ujung kepala sampai ujung kakimu!” pekikku.
“Tapi kau tau rasanya berpijak pada tanah gambut di bawah sana dengan kakimu, sedangkan menapak pun aku tidak bisa. Bahkan aku tidak berdaya untuk mengawini jiwa binatang yang mengusik kita semua dan menyuruh mereka untuk berhenti,” finalnya kemudian menghilang.
Sejenak setelah percakapan itu, kepalaku kosong, atau sedari awal memang sudah kosong. Aku dan kami, menginginkan kehidupan yang luar biasa indah dengan dunia ciptaan ini. Aku dan kami, selalu menyambut tangan makhluk lain secara terbuka karena meyakini bahwa keindahan dan kemakmuran yang kami miliki bisa menjadi dukungan dan “Cipratan” para tamu, niscaya dunia lain yang mereka jejaki dapat seindah dan serupa dengan milik kami.
Tapi setelah kalimat yang disentak oleh Kong semalam juga obrolan ringan yang baru saja terputus, membuatku berpikir dua kali. Apa benar kami ini adalah makhluk yang naif? Yang selalu memandang makhluk lain termasuk binatang-binatang itu sebagai tamu dan patut untuk disambut dengan hangat?
Suara makhluk suci yang hilir mudik di atap-atap terus terdengar dari saat binatang-binatang itu menjejakkan kakinya di selasar hingga saat ini mereka terburu-buru melarikan diri. Namun, ada yang berbeda dari suara mereka yang direpetisi. Jika tidak salah ingat, sebelumnya mereka merepetisi suara Aak! Akk! Aak!. Namun, sekarang berubah menjadi Mak! Mak! Mak!.
Ah entahlah! Mungkin pendengaranku salah seiring dengan ampas yang ditinggalkan para binatang itu naik mengudara dan menyergap paru-paru serta mataku yang terus berair. Ku kedipkan mataku berulang kali hingga tanpa sadar aku mulai mengantuk, atau mungkin kehilangan kesadaran untuk ke beberapa kalinya belakangan ini. Mungkin ini efek “Magis” yang ditinggalkan oleh para binatang itu, tapi aku tidak begitu yakin.
Di penghujung kelopak mataku akan menyatu, aku merasakan binatang lain mendekat dengan kulit licin yang terlihat terlihat menggigil basah kuyup di saat kucuran keringat panas menjadi kulit keduaku. Mereka ingin menggapaiku, aku tidak yakin apakah para binatang ini masuk ke golongan baik atau tidak.
Semenjak pikiranku mulai terdistorsi dari percakapan kedua makhluk suci beberapa waktu ini, aku merasa mulai mampu untuk menumbuhkan pemikiran antara baik dan buruk. Mereka menggapai dan memberikan belenggu hangat dari aku yang bertahan di atas seutas tali.
Tuhanku, izinkan aku mengagumi seluruh ciptaan mu,
Tuhanku, izinkan aku bersyukur dengan apa yang telah aku miliki,
Tuhanku, janganlah engkau jadikan aku pribadi yang TAMAK,
Tuhanku, janganlah engkau jadikan aku pribadi yang merasa memiliki kekuasaan untuk mengambil alih apa yang seharusnya kami manfaatkan secara dermawan.
Itu dia! Aku mendengar jampi-jampi yang diucapkan dengan lirih sembari tangannya tak henti mendinginkan tubuhku. Benar bukan? Bahwa apa yang tidak kita dengar bukan berarti tidak diucapkan.
Buktinya, binatang satu ini mengucapkannya dengan lirih. Lagipula, aku percaya jika binatang yang sebelumnya mengusik dan kocar-kacir karena melihat binatang kulit licin basah kuyup dengan memegang benda elastis panjang mengeluarkan air ini bukanlah tipe binatang yang akan berbuat kejahatan termasuk ketamakan. Iya, kan?
Cerpen ini ditulis oleh Andini Oktaviandari, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Unmul 2022.