Nasib Berbeda Bagi Farmasi dan FKTI

Nasib Berbeda Bagi Farmasi dan FKTI

SKETSA – Tertatih-tatih Fakultas Farmasi menyesuaikan jadwal praktikum yang kacau akibat banjir pada Senin (28/11) lalu. Banjir merendam gedung-gedung kelas, dekanat, hingga terparah laboratorium di Farmasi. Terhitung sejak Senin hingga Rabu tidak ada praktikum yang jalan, kegiatan hanya fokus di pembersihan lumpur yang memenuhi ruang lab.

Laode Rijal, dekan Farmasi, mengatakan kondisi lab Farmasi berbeda dengan fakultas lain. Di Farmasi ruangan terbatas sehingga jadwal yang ada disusun sangat ketat. Baik mahasiswa dan pembina praktikum sudah paham akan itu. Tapi, bencana alam apakah mau peduli?

“Tidak ada satu pun manusia yang mampu memprediksi bencana alam,” katanya kepada Sketsa, Kamis (1/12).

Akibat banjir itu praktikum di Farmasi baru bisa berjalan lagi kemarin, sambil diikuti dengan beberapa jadwal praktikum pengganti. Untuk hal ini Rijal sempat berdiskusi dengan wakil dekan I Farmasi. Dari situ diputuskan praktikum yang semula kacau diatur lagi dan diubah di hari Minggu (4/12).

Menurut Rijal, bukan zamannya lagi untuk menyalahkan atau bingung harus membenahi banjir mulai dari mana. Dalam hal ini, ia menyinggung Pemerintah Kota Samarinda, yang membiarkan penataan kota menjadi jelek.

“Karena banjir itu sendiri merupakan bawaan dari kota ini. Andai saja sungai Karang Mumus itu dikelola dengan baik, kota Samarinda pasti akan manis,” tukasnya.

Nasib FKTI Lebih Baik

Bukan maksud Farmasi ataupun FKIP mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing. Fakultas Komputer dan Teknologi Informasi (FKTI) yang berada di jalur sama dengan kedua fakultas tersebut selalu selamat dari banjir. Di saat Farmasi dan FKIP was-was kuliahnya terganggu karena banjir, FTIK cukup bernapas lega.

Nataniel Dengen, dekan FKTI, berujar kampusnya sudah aman dari banjir sejak enam tahun terakhir ini. Kala itu, FKTI melakukan renovasi yang ternyata cukup untuk membuatnya terhindar dari banjir. Sekarang jika Gunung Kelua tergenang FKTI hanya merasa kesulitan di akses jalan menuju kampus.

“Sudah ada koordinasi dengan Pak Rektor terkait hal ini, dan kami seluruh dekan juga sudah melakukan rapat pada hari itu juga. Kami membahas titik datangnya air dan juga solusi untuk ke depannya agar kampus Unmul yang berada di Gunung Kelua bisa meminimalisir apa yang terjadi saat hujan deras,” pungkasnya. (mpr/syr/wal)