Self Sabotage: Ketika Diri Sendiri Menjadi Musuh Terbesar

Self Sabotage: Ketika Diri Sendiri Menjadi Musuh Terbesar

Sumber Gambar: DjelicS

SKETSA - Sering merasa takut gagal saat ingin memulai sesuatu? Sering sengaja menunda tugas dengan aktivitas lain padahal urgensinya lebih rendah? Jika iya, pertanda kamu sedang mengalami self sabotage.

Self sabotage akhir-akhir ini cukup populer namun merupakan salah satu istilah yang rumit untuk didefinisikan secara tegas. Fenomena ini sering terjadi pada diri sendiri, baik secara sadar maupun tidak sadar sebab berbagai hal.

Mengutip pendapat seorang psikolog klinis, Nick Wignall, pada website resminya nickwignall.com. Secara sederhana self sabotage adalah ketika kamu merusak tujuan dan nilaimu sendiri. Dengan kata lain, kamu mengakui bahwa ada sesuatu di luar sana yang benar-benar kamu inginkan dan yakini baik untukmu, tetapi kemudian kamu malah melakukan hal-hal yang secara langsung bertentangan dengan tujuan awalmu.

Bentuk self sabotage secara sadar, misalnya kamu tahu bahwa kamu masih memiliki tugas tertentu yang harus segera diselesaikan. Namun, secara bersamaan kamu malah menunda tugas tersebut dengan hal-hal yang tidak begitu penting. Seperti bermain game, menonton film, dan lainnya.

Sedangkan self sabotage yang secara tidak sadar dilakukan adalah perasaan takut gagal sebelum memulai sesuatu yang baru. Perasaan takut tersebut terkadang juga sering menjadi pembenaran untuk tidak melakukan usaha secara maksimal. Apabila dibiarkan begitu saja, tentu bisa menjadi kebiasaan buruk dan dalam jangka panjang dapat menghambat tujuan yang ingin diraih.

Lalu seperti apa cara yang dapat kamu terapkan agar tidak terjebak dengan fenomena self sabotage? Berikut Sketsa rangkum tips-tipsnya khusus untukmu!

1. Berkomitmen kuat terhadap jadwal yang telah disusun

Membuat jadwal atau daftar perencanaan kegiatan yang akan dikerjakan tentu akan memudahkan kamu dalam mengalokasikan waktu yang kamu miliki agar tidak terbuang sia-sia. Namun, jauh lebih penting dari itu adalah komitmen yang hadir. Sehingga kamu harus memastikan dirimu sendiri untuk bisa berkomitmen penuh terhadap jadwal yang telah kamu buat sebelumnya.

2. Tidak terlalu keras pada diri sendiri

Seringkali sifat toxic yang menghambat tujuan yang ingin dicapai berasal dari diri sendiri. Misalnya pemikiran bahwa kegagalan merupakan sebuah aib. Dari pola pikir tersebut kamu dapat dikatakan terlalu keras pada dirimu sendiri. Cobalah untuk memahami bahwa kegagalan bukan suatu aib melainkan sesuatu hal yang wajar terjadi. Jangan halangi dirimu untuk mencoba hal baru karena alasan takut gagal.

3. Pemahaman antara self reward dan self sabotage

Banyak orang yang masih keliru dalam membedakan dua hal ini. Sesuatu dapat dikatakan self reward apabila setelah melakukannya mampu membuat kita lebih semangat mengejar suatu tujuan. Misalnya ketika sedang diet seseorang memanfaatkan cheating day miliknya untuk menikmati es krim yang sejak lama dia inginkan. Hal ini bertujuan agar proses diet yang dilakukan tidak membuat jenuh dan pada hari selanjutnya orang tersebut menjadi lebih semangat melanjutkan diet keesokan hari.

Sedangkan self sabotage justru sebaliknya, setelah melakukannya seseorang cenderung malas menggapai tujuan awal. Masih dalam contoh yang sama seperti sebelumnya, saat sedang cheating day, orang tersebut secara bebas makan dengan berlebihan. Sehingga tentu saja diet yang dilakukan gagal total gara-gara satu hari dan menyebabkan malas untuk melanjutkan proses diet pada esok hari.

Bagaimana, sudah jauh lebih tahu tentang fenomena self sabotage, bukan? Semoga beberapa tips di atas bisa kamu terapkan untuk menghindari dampak buruk adanya self sabotage, ya! (nkh/rst)