logo logo

Suara Kritis & Edukatif Mahasiswa

Universitas Mulawarman

Kontak Redaksi LPM SKETSA

Call: +6285159630227

sketsaunmul@gmail.com
Hari Besar

Memerdekakan Diri Sebagai Kado Untuk Negeri

Kolonialisme baru dalam dunia maya.

Sumber Gambar : Steemit

SKETSA – Kemerdekaan tanpa ingar bingar nampaknya bukan suatu hal yang baru. Tahun ini pada usia yang ke-76, Indonesia punmasih harus berjuang. Bukan menghadapi para penjajah, melainkan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. Meski begitu, semangat kemerdekaan seolah bergejolak pada setiap rakyat. Kondisi negeri yang sulit dan memprihatinkan, menumbuhkan rasa cinta juga harapan yang begitu besar untuk Ibu Pertiwi.

Tak ada keramaian di sekitar, namun dunia maya dipenuhi kemeriahan tersendiri. Kemudahan berjejaring membuat segalanya menjadi terhubung. Dalam merayakan kemerdekaan ini pula, beragam aksi digital bergerak mewarnainya.

Beragam konten-konten berbasis video, teks dan gambar digunakan untuk mengekspresikan rasa cinta terhadap bangsa. Adapula twibbon bertema kemerdekaan yang dibuat menunjukkan semangat kemerdekaan. Tak luput lomba-lomba yang turut digelar, baik secara langsung dengan protokol kesehatan ketat atau kegiatan daring yang sayang untuk dilewatkan.

Bahkan, Presiden Joko Widodo sendiri mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk merayakan hari kemerdekaan ini melalui Festival Virtual Kemerdekaan di Rumah Digital Indonesia (RDI) melalui rumahdigitalindonesia.id.

Hari ini, ruang maya dipenuhi rasa haru, bangga sekaligus ajang nostalgia terhadap perjuangan para pahlawan. Namun, di saat yang bersamaan juga membuat kita berada dalam kolonialisme baru. Meski merdeka, bangsa dijajah tidak secara langsung dan bukan dengan senjata.

Kita masih harus berperang dari berbagai aspek kehidupan. Mulai dari maraknya konten-konten negatif, meningkatnya kejahatan di ruang digital seperti hoaks, penipuan daring, pelecehan seksual, perundungan siber, ujaran kebencian hingga menurunnya kualitas hidup generasi muda.

Masih ada yang harus kita lawan. Kemalasan, keberhasilan tanpa usaha, keinstant-an, rasa ingin serba mudah, kenyamanan sampai kesenjangan pengetahuan yang belakangan justru secara terang-terangan berdampingan dengan kehidupan kita sehari-hari.

Bukan sekadar perayaan atau ajang nostalgia belaka, merayakan kemerdekaan seharusnya lebih daripada itu. Hari ini, kita harus menggerakkan anak bangsa untuk memerdekakan diri. Kembali berjuang melawan beragam bentuk kolonialisme baru yang menyerang tanpa kata serang.

Sudahkah kita merdeka? Saatnya berjuang, merdeka bagi diri sendiri, kemudian bersatu untuk kemerdekaan bangsa. Mari, jadikan memerdekakan diri sendiri sebagai kado untuk negeri. Dirgahayu Negeriku! (khn/len)



Kolom Komentar

Share this article