Jurnalisme Naratif: Atmosfer Baru Dalam Membaca dan Menulis Berita

Jurnalisme Naratif: Atmosfer Baru Dalam Membaca dan Menulis Berita

Sumber Gambar: Istimewa

SKETSA – “Bercerita melalui sebuah berita.” Inilah kalimat yang tepat dalam menggambarkan bagaimana jurnalisme naratif bekerja. Muncul sebagai materi kedua dalam Kenal Sastrawi, jurnalisme naratif menjadi pembahasan yang tak kalah menarik dibanding materi sebelumnya.

Seperti materi pertama, agenda ini kembali digelar selama tiga hari dengan durasi dua jam setiap harinya. Meski sempat terjadi perubahan jadwal, hal tersebut tak mengurangi antusiasme peserta dan kelas masih berjalan dengan lancar. Chik Rini didapuk sebagai pemateri yang membawa peserta menyelami kedalaman dari jurnalisme naratif atau yang kerap disebut jurnalisme sastrawi.

Mulanya pada Minggu (1/8), disampaikan bahwa jurnalisme naratif merupakan sebuah genre dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat. Liputan ini sendiri dikerjakan secara mendalam. Tak hanya itu, penulisannya juga dilakukan dengan gaya sastrawi agar hasilnya enak dibaca.

Terkait perbedaannya dengan jenis lain seperti berita harian atau hard news, Chik Rini turut memaparkannya secara rinci. Materi yang dijelaskan tak jauh berbeda dengan yang tertulis pada pengantar jurnalisme sastrawi (baca: http://www.andreasharsono.net/2006/01/ibarat-kawan-lama-datang-bercerita.html?m=1). Genre ini berbeda dari reportase sehari-hari sebab menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), reportase yang menyeluruh (immersion reporting) dan menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person point of view) yang dipenuhi dengan detail.

Ketika laporan tersebut menyampaikan informasi dan pengetahuan, maka cerita atau narasi akan menciptakan pengalaman. Saat laporan menunjuk pada sesuatu, maka cerita membawa kita pada sesuatu. Laporan terkandung pada berita langsung atau hard news, sementara cerita terkandung dalam jurnalisme narasi. Walau berupa narasi, ini bukanlah karya fiksi karena di dalamnya penuh dengan data dan fakta.

Seperti sebelumnya, peserta kembali diajak mengurai ilmu yang didapat. Usai diskusi, tanya jawab dan konsultasi pada Selasa (3/8) peserta ditugaskan untuk menulis cerita dalam sebuah berita secara individu. Chik Rini menyampaikan bahwa kunci dari jurnalisme naratif adalah sebuah detail. Sehingga, akan sulit dikerjakan tanpa reportase langsung ke lapangan. Kekuatan kelima indra menjadi kunci jurnalis dalam menulis narasi ini.

Kerumitan pemahaman materi nampaknya masih begitu membekas di benak para peserta hingga acara usai. Terutama ketika evaluasi tugas pada Sabtu (7/8) lalu. Sebagian peserta merupakan jurnalis kampus dengan jam terbang yang belum tinggi, sehingga jurnalisme naratif mengemas pengalaman yang berbeda dalam membaca dan menulis berita.

Selain diisi dengan evaluasi tugas, Sabtu siang itu peserta juga diajak menyampaikan beragam kendala dan kesulitan dalam mengerjakan narasi. Begitu banyak yang tercatat, sebab prosesnya pun tidak main-main. Sangat disayangkan bahwa jenis tersebut tidak cukup berkembang di Indonesia lantaran ruangnya yang sedikit.

Di akhir agenda, foto bersama dilakukan untuk menutup rangkaian kegiatan PJTLN Kenal Sastrawi oleh LPM Bahana Unri. Setelahnya, panitia membagikan sertifikat melalui grup WhatsApp. Sementara, evaluasi setiap tulisan akan dikirim secara berkala oleh Chik Rini. (khn/fzn)