Berita Kampus

Perjalanan Tiga Mahasiswa Berprestasi Unmul 2026: Prestasi, Inovasi, dan Keinginan Berkontribusi untuk Masyarakat

Unmul gelar Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2026 tingkat universitas, tiga pemenang turut membagikan pengalaman dan pesan

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

SKETSA - Unmul kembali gelar Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2026 tingkat Universitas, Senin (13/4) lalu di Gedung Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si., atau Unmul Hub. Kegiatan ini menjaring mahasiswa terbaik untuk maju ke tingkat nasional. Peringkat Pertama Pilmapres 2026 sekaligus mewakili Unmul ke tingkat nasional berasal dari FKLT, disusul dari FISIP dan FKG sebagai juara kedua dan ketiga.

Peringkat pertama sekaligus Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Utama 2026 diraih oleh Adnadinna Nursari R, mahasiswa Ilmu Kehutanan FKLT 2023. Sementara itu, peringkat kedua adalah Muhammad Fahresy Alfariz, mahasiswa Hubungan Internasional FISIP 2023. Terakhir, Tiara Nada Assadat, mahasiswa Kedokteran Gigi FKG 2023.

Kepada Sketsa, ketiganya membagikan pengalaman selama mengikuti penjaringan Mawapres. Mulai dari kendala administrasi yang mepet hingga kontribusi nyata yang akan diberikan melalui karya ilmiah yang dipresentasikan.

Adnadinna Nursari R, menyebut mengikuti Pilmapres adalah perjalanan yang panjang menurutnya. Sebab, Pilmapres menjaring mahasiswa-mahasiswa yang telah menorehkan prestasi selama masa perkuliahan.

“Mempersiapkan dari seringnya mengikuti lomba, kompetisi, dan hal lain yang menjadi penunjang peningkatan capaian unggulan,” katanya saat ditemui langsung oleh Sketsa, Sabtu (15/5) lalu.

Ia melanjutkan, persiapannya juga termasuk dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi Adnadinna untuk menyelesaikan KTI sembari membagi waktu untuk menyelesaikan tugas akhir.

“Jadi, saya membutuhkan waktu untuk berdiskusi dengan dosen pembimbing,” ungkapnya.

Ia menyebut peran besar mentor, baik itu dosen dan juga senior, dalam membimbing penulisan KTI-nya. Termasuk dalam latihan penyampaian gagasan kreatif hingga persiapan bahan presentasi.

Adnadinna sendiri menyusun KTI tentang pemanfaatan kakao untuk peningkatan ekonomi sekaligus konservasi Orangutan di daerah Bentang Alam Nesan Menyapa  yang fokus pada keseimbangan antara nilai ekonomi dan lingkungan.

Mengutip dari pengalamannya, Adnadinna menyebut bahwa rasa ragu selalu ada. Namun, ia juga berpesan untuk tidak takut ketika ingin memulai suatu hal.

“Harapan saya ketika kita masih diberi kesehatan, kita masih diberi kesempatan untuk melakukan hal baru, ambil saja hal tersebut, mulai saja karena kita tidak pernah tau apa yang akan kita dapati ke depannya,” tuturnya.

M. Fahrezy Alfariz juga menyebut bahwa prestasi adalah hal yang paling ditonjolkan dalam Pilmapres. Sehingga, harus dibuktikan dan mengambil peran penting dalam prestasi yang dimasukkan dalam daftar administrasi.

“Memang paling ditonjolkan prestasi-prestasi yang sudah kamu miliki dan kamu harus buktikan kalau memang itu prestasi yang kamu capai dan bisa dibilang kompetitif atau memang kamu mengambil peran aktif,” jelasnya kepada Sketsa, (5/6) lalu.

Sama seperti peserta lain, selain membawa daftar prestasi, Fahrezy juga maju dalam Pilmapres Universitas dengan membawa KTI yang membahas perkebunan ramah lingkungan. Ia menceritakan bahwa ide tersebut berangkat dari interaksi dan diskusi dengan ahli-ahli lingkungan ketika mengikuti Konferensi Internasional bersama Cornell University di Amerika secara daring.

“Saya dapat kesempatan mengenai salah satu penelitian mengenai cara agar mereka bisa melakukan perkebunan atau pertanian yang ramah lingkungan sehingga mendapatkan nilai ekonomi dan juga lingkungan mereka tetap dijaga,” paparnya.

Fahrezy mengaku memang memiliki ketertarikan sendiri di bidang lingkungan. Ia pernah melakukan penelitian dan melakukan wawancara dengan Otorita IKN terkait Transisi Energi Hijau di Kalimantan Timur, terutama IKN. Hal ini yang membuat Fariz ingin berkontribusi lebih lanjut, tidak hanya berhenti di KTI Pilmapres.

“Saya juga pernah mencoba melakukan kampanye mengenai ke berapa ancaman yang ada pada persimpangan di Kalimantan Timur. Kedua di bidang pendidikan, saya sebenarnya anggota komunitas pendidikan inklusif, namanya Slow Learners Cares (SLC),” katanya.

Sejalan, Tiara Nada Assadat juga menyebut harus memiliki persiapan prestasi atau capaian dalam mengikuti penjaringan Mawapres. Ia menyebut persiapan mengikuti Pilmapres tidak bisa dilangsungkan dalam waktu singkat. Karena harus memiliki capaian-capaian unggulan, baik berupa prestasi dan pengabdian yang dilakukan sejak masuk kuliah.

“Menurut saya butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk persiapan capaian unggulannya sendiri,” katanya saat ditemui langsung oleh Sketsa, Rabu (20/5) lalu.

Tiara yang berlatar belakang pendidikan Kedokteran Gigi membawa KTI yang memungkinkan inovasi screening patologi oral berbasis multimodal deep learning dan edge computing untuk diagnosa real time di wilayah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan dan akses internet karena melihat tingginya kasus penyakit gigi dan mulut di Indonesia.

“Jadi itu semacam AI gitu tapi dia bisa dijalankan di daerah yang memang kurang konektivitas internetnya,” kata Tiara.

Meskipun dalam menjalankan inovasi tersebut nantinya dibutuhkan perencanaan yang matang, pemetaan daerah yang sesuai target, hingga kerjasama dengan lintas disiplin, Tiara menyebut tetap ingin memanfaatkan peluang sebagai mahasiswa untuk berkontribusi kepada masyarakat.

“Saya memanfaatkan pengalaman saya di organisasi dan pengabdian, kemudian dari pengalaman itu saya abdikan lagi bagaimana saya bersosialisasi pada masyarakat,” pungkasnya. (ner/mlt/akm/mou)



Kolom Komentar

Share this article