Menjelang Pergantian Wakil Rektor, Pengelolaan Kampus Masih jadi PR Besar

Menjelang Pergantian Wakil Rektor, Pengelolaan Kampus Masih jadi PR Besar

SKETSA - Pergantian wakil rektor akan segera dilaksanakan. Wakil rektor merupakan salah satu yang berperan penting terhadap perkembangan kampus. Salah satu yang berhasil diwawancarai Sketsa beberapa waktu lalu ialah Wakil Rektor Bidang Umum, Sumber Daya Manusia, dan Keuangan yang dijabat oleh Abdunnur. Ia menceritakan capaian selama satu periode ia menjabat.

Menurut Abdunnur, selama menjabat ia sudah melaksanakan tugas dan fungsi sesuai dengan yang diberikan. “Dalam satu peridoe ini kita membangun komitmen dan teamwork untuk membangun kinerja dalam rangka untuk mengimplementasikan capaian-capaian dari kinerja sesuai visi misi rektor,” ungkapnya.

Salah satu pencapaian yaitu diperolehnya opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) di bidang keuangan pada tahun 2016-2017. WTP merupakan penilaian tata kelola keuangan yang tertinggi. Selain itu, pencapaian pada bagian umum adalah diterimanya sinergis terbaik untuk pengelolaan Badan Milik Negara (BMN).

Hal lain yang sedang ditingkatkan yaitu peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). “Jumlah dosen yang S3 sekarang sudah 33%. Kemaren 30% saja. Sekarang banyak yang on going, tinggal menyelesaikan dan kita support saja. Support kualitas dalam bentuk course, bimtek, latihan kepemimpinan untuk penjejangan karier bagi tenaga kependidikan,” jelas Abdunnur.

Pada bagian layanan umum, terjadi perubahan pola insentif dalam bentuk remunerasi sebab pada tahun 2009-2015 hal tersebut tidak diimplementasikan. “Sejak kami menjabat, kita harus mengimplementasikan itu sebagai kewajiban dan alhamdulillah sudah kita laksanakan di tahun ketiga dan itu tentu tidak mudah mengimplementasikannya,” lanjutnya.

Abdunnur juga menambahkan remunerasi tersebut diimplementasikan untuk memperbaiki tata kelola secara keseluruhan, baik administratif, kinerja pegawai, maupun tata kelola dalam pemberian insentif termasuk reward pegawai, dosen, dan tenaga kependidikan sesuai dengan ketentuan dan aturan.

Mengenai tata pengelolaan lingkungan kampus, diakui Abdunnur hal tersebut masih menjadi PR besar yang belum sesuai keinginan. “Selama ini kalau ada case tentang kehilangan, menurut saya ini bukan hanya tanggung jawab level pimpinan universitas saja tetapi menjadi tanggung jawab kita semua. Karena sebetulnya garis terdepan itu mahasiswa, kami ingin membangun kebersamaan dalam membuat sistem keamanan lingkungan,” tambahnya.

Abdunnur menganggap penataan lingkungan tentu menjadi hal penting, namun ia merasa harus duduk bersama untuk membuat konsep yang saling mendukung dan ditawarkan ke mahasiswa. “Konsepnya mungkin Pak Rektor dengan kabinet yang akan datang akan melakukan penyempurnaann itu, termasuk menata arus lalu lintas dan sebagainya."

Selain tata pengelolaan lingkungan kampus, hal lain yang perlu ditingkatkan adalah pelayanan secara umum mulai dari SOP yang standar tidah hanya di rektorat tetapi di fakultas juga harus punya ketentuan yang sama. Kebijakan di rektorat dinilai sudah bagus namun berbeda dengan ditingkat fakultas.

“Kemaren masih ada mahasiswa, kok kebijakan di rektorat sudah bagus kenapa tidak di fakultas, tidak sama kebijakannya. Tentu ini juga kita tidak bisa mendikte pimpinan fakultas harus seperti apa, misal pelayanan UKT kadang-kadang sebetulnya sudah ada ketentuan tidak bisa cuma fakultas tidak mau mengambil risiko, silakan boleh menurunkan asal menghadap ke rektorat nah inikan menjadi akhirnya kebijakannya parsial-parsial dan akhirnya kita melayani semua di sini,” ungkap Abdunnur.

Abdunnur menegaskan bahwa fakultas harus tegas dalam menyampaikan informasi dan kebijakan.

Secara keseluruhan Unmul sudah cukup berbangga dengan periode ini seperti akreditasi institusi yang sudah A. Menurut Abdunnur hal ini bangun tidak tiba-tiba tapi dari sistem, dukungan bersama, kerja bersama, bukan hanya bicara tapi ditunjukkan dalam bentuk eksistensi, pelan-pelan tapi pasti.

"Sebetulnya sudah on the track, Pak Rektor ini tinggal mempelajari kekurangan kemarin yang belum, apa saja tinggal disupport.


Kendala Selama Menjadi Wakil Rektor

Perihal kendala selama menjabat menjadi wakil rektor, Abdunnur menjadikan kendala sebagai tantangan dan ujian, ia menyikapi setiap kendala sebagai sebuah proses pembelajaran. “Sebagian kebanggan tapi yang lebih penting saya mampu enggak belajar dari situ sehingga saya berkomitmen dalam diri bagaimana keberadaan saya dapat memberikan manfaat kepada orang lain maupun bagi Unmul untuk kemajuan.” 

Dijelaskannya, jabatan tersebut bukan hal prestisius, namun ia memiliki kesempatan untuk membangun komunikasi dengan semua lapisan. Menurut ia dalam hidup komunikasi adalah yang terpenting karena dapat memberikan peningkatan kualitas hidup.

Pemilihan wakil rektor akan dipilih berdasarkan pertimbangan senat yang akan dilaksanakan sebelum akhir tahun. “Kalau enggak ada halangan 26-27 rapat senat, 27-28 pelantikan supaya di awal tahun sudah ada pejabat yang baru yang bisa memulai di awal tahun, awal akademik, awal anggaran sesuai periode tahun lebih bagus,” tutur Abdunnur.

Perihal kegiatan setelah tidak menjabat menjadi wakil rektor, Abdunnur secara pribadi mengatakan akan kembali menjadi dosen pengajar sesuai dengan Tri Dharma Perguran Tinggi. “Siap kembali sebagai dosen biasa dan kita juga yakin untuk memberikan kontribusi terhadap kemajuan lembaga kalaupun bukan sebagai wakil rektor sebagai dosen biasa pun tetap komit mensupport kemajuan lembaga,” tutupnya. (adn/wil/els)