Berita Kampus

Jelang Pendaftaran KKN, LP2M Jadi Tutup Mulut

Lepas dari beban berbayar, belum juga menuntaskan kegelisahan mahasiswa calon peserta KKN 43. (Sumber foto: Jati Dwi J.)

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


SKETSA - Lepas dari beban berbayar, belum juga menuntaskan kegelisahan mahasiswa calon peserta KKN 43. Pasalnya, terhitung sejak audiensi lanjutan KKN terakhir pada Senin, (6/3) lalu hingga hari ini, Prosedur Operasional Baku (POB) terkait jenis-jenis KKN tak kunjung dikantongi BEM KM Unmul sebagai pihak yang diharap bisa memberi kejernihan soal KKN. Belum lagi mengingat tenggat pendaftaran yang kian molor dari targetan awal.

Dalam pemaparannya sewaktu audiensi, Susilo Ketua LP2M sempat menjanjikan akan memublikasikan POB segera. Namun, itu belum terjadi hingga sekarang. Makin dipersulit lagi karena LP2M enggan buka mulut soal KKN jika yang datang tidak membawa serta pimpinan lembaga di kantor LP2M.

Hal ini dikeluhkan Indra Cahya Pramukti Menteri Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM KM Unmul. Kepada Sketsa Rabu (8/3), Indra mengatakan, beberapa stafnya diutus untuk mengonfirmasi hasil audiensi sekaligus menagih POB KKN 43 dengan menyambangi langsung kantor LP2M. Tapi, lantas terkejut karena mendapati penolakan dari Susilo.

"Ketika staf Adkesma ke sana, Pak Susilo sendiri bilang untuk info KKN hanya satu pintu. Beliau bilang kalau mau tahu soal KKN harus membawa pimpinan lembaga. Misalnya BEM mesti bawa Presiden. Sketsa mesti bawa ketuanya. Karena itu kita tadi terkendala dan tidak menghasilkan apa-apa karena Norman enggak ikut," tuturnya.

Indra menyebut langkah itu dilakukan Susilo untuk mengurangi simpang siur informasi yang sebelumnya keluar dari banyak mulut. Bahkan, di meja pelaksana teknis LP2M tertulis "close information" sebagai tanda nyata bahwa informasi benar-benar ditutup kecuali dari mulut Susilo seorang.

"Padahal sejatinya sebagai pejabat publik harusnya melayani," imbuh Indra.

Sementara itu, Presiden BEM KM Unmul Norman Iswahyudi menyatakan kecewa atas sikap LP2M. Ia merasa sudah cukup diserang mahasiswa, bahkan sebelum adanya kebijakan yang menurutnya tak elegan seperti ini.

Norman mengaku tak masalah jika ada mahasiswa bertanya kepada dirinya. Tetapi, itu tidak semestinya membuat LP2M tutup mulut dan lantas melempar urusan penyebarluasan informasi seutuhnya kepada BEM KM Unmul.

"Mestinya kalau mau ada seperti ini harusnya ada pemberitahuan berupa surat dan itu tidak ada. Mestinya jangan begitu ngomongnya. Kami berharap LP2M bisa terbuka," tandasnya. (aml/wal)



Kolom Komentar

Share this article