Garuda Mulawarman Walkout, Bagaimana Nasib Aliansi Kaltim Bersatu?

Garuda Mulawarman Walkout, Bagaimana Nasib Aliansi Kaltim Bersatu?

Sumber: Istimewa

SKETSA - Di tengah hiruk pikuk para demonstran aksi jilid II (26/9) lalu, beberapa pimpinan tertinggi BEM Fakultas Universitas Mulawarman (Unmul) terlihat membentuk kerumunan sendiri.

Bukan tanpa alasan, kerumunan yang mengatasnamakan Aliansi Garuda Mulawarman (Garmul) ini rupanya tengah mengadakan rilis singkat mengenai sikap mereka terhadap aksi yang berlangsung. Aliansi ini terdiri dari BEM KM Unmul, BEM FKIP, BEM FEB, BEM Faperta, BEM FMIPA, BEM FKM, BEM FIB, BEM FKTI, Lem Sylva, BEM Farmasi, dan BEM FK.

Dalam video singkat yang beredar dengan tegas mereka menyatakan bahwa tidak lagi menjadi bagian dari Aliansi Kaltim Bersatu (AKB). Idet Arianto Putra selaku Gubernur BEM FKIP, juga pimpinan aliansi dengan lantang berujar bahwa mereka tak lagi mengikutsertakan diri mereka pada aksi yang akan datang.

"Kami menyatakan bahwa Aliansi Garuda Mulawarman keluar dari barisan aksi ini. Kami sangat menyayangkan adanya kerusuhan-kerusuhan di sekitar kantor DPRD Kalimantan Timur," ujar Idet dalam video singkat tersebut.

Selain menyayangkan banyaknya tindak anarkisme yang terjadi, Garmul juga menyesali banyaknya korban jiwa yang berjatuhan. Idet menganggap aksi yang dua kali dilaksanakan sudah cukup menjadi bukti begitu banyak mahasiswa yang terpaksa terluka.

"Kami tidak ingin ada mahasiswa yang kehilangan masa depannya karena aksi ini," tambah Idet memaparkan alasan mundurnya Garmul dari barisan aksi.

Menanggapi video yang telah beredar di media sosial, Aliansi Kaltim Bersatu juga mengeluarkan rilis yang berisi penyataan sikap mereka terhadap keluarnya Garmul dari barisan aksi. Dalam rilis yang telah beredar tertulis jelas bahwa apa yang dilakukan Garmul merupakan suatu bentuk tindakan pelemahan terhadap gerakan rakyat.

Hal ini kembali dipertegas oleh Yohanes Ricardo yang merupakan Humas AKB bahwa mereka akan tetap melanjutkan perjuangan meski tanpa Garmul saat konferensi pers Minggu (29/9) kemarin di Fakultas Hukum Unmul. Dalam konferensi pers, Ricardo mengecam tindakan Garmul. Ia berpendapat bahwa memisahkan diri dari barisan merupakan tindakan yang dapat memecah belah persatuan dan perjuangan massa.

Sekre BEM KM Unmul Diserang

Bukan menjadi rahasia umum lagi jika kini tengah beredar beberapa foto mengenai kondisi pasca aksi tolak revisi UU KPK dan KUHP di kantor DPRD Kamis lalu. Setelah menyatakan diri keluar dari AKB, sekretariat BEM KM Unmul yang berada di gedung Student Center kini terlihat penuh coretan.

BEM KM Unmul yang memang merupakan salah satu bagian dari Garmul menjadi sasaran empuk bagi sebagian oknum yang tak terima keluarnya mereka dari barisan aliansi. Dinding berwarna abu-abu itu kini dipenuhi tulisan 'mundur adalah pengkhianat' dengan ukuran yang cukup besar.

Tak hanya itu terlihat jelas juga kondisi muka sekret yang dipenuhi sampah sehingga mengakibatkan kotornya halaman depan sekretariat. Tulisan-tulisan ini disinyalir sebagai bentuk protes beberapa oknum atau pihak akan mundurnya Garmul. Mereka yang menyuarakan protes ini beranggapan bahwa Garmul terkesan mencari aman dengan ingin menjaga nama baik kampus.

Namun hingga kini belum diketahui siapa jelasnya pelaku yang menghiasi dinding sekretariat BEM KM Unmul itu. Hingga berita ini diturunkan, Sketsa masih mencoba mengonfirmasi ke beberapa pihak terkait untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut. (sut/wil)