Pers Masa Kini: Menilik Media Cetak dan Online

Pers Masa Kini: Menilik Media Cetak dan Online

Di tengah gempuran dan maraknya kemunculan berbagai medium untuk menyampaikan pemberitaan, saat ini posisi media cetak masih cukup merebut hati beberapa kalangan (generasi tua) masyarakat Indonesia.

Media massa yang ‘menjual’ berita dituntut untuk selalu mengutamakan kebaruan atau kesegaran informasi. Adanya internet, kesegaran tersebut terpenuhi, sangat mudah diakses dan disebarluaskan, utamanya bagi masyarakat hari ini yang begitu gadget minded.

Kemunculan internet, beriringan dengan hadirnya komputer hingga ponsel pintar, sedikit banyak mengubah budaya baca dalam masyarakat. Perusahaan penggiat berita pun harus jeli serta memahami hal itu.

Eksistensi koran dari masa ke masa begitu kuat. Tak dapat dipandang sebelah mata, apalagi remeh. Lahirnya koran sebagai pionir pemberitaan, turut andil memberikan warna dunia komunikasi suatu bangsa. Namun, suatu perubahan yang mendamba kemudahan diamini oleh lahirnya beragam teknologi canggih. Walhasil, pamor koran dan media cetak mulai sedikit memudar.

Bagi mereka yang menghendaki informasi cepat, singkat, menarik tetapi akurat, lebih memilih berita online yang mudah dan terjangkau. Sedangkan bagi mereka yang menghendaki sajian berita mendalam, matang, dan lengkap, tetap jatuh hati pada koran cetak.

Tulisan ini tak sekadar opini belaka. Data survei Serikat Perusahaan Pers (SPS) di sembilan kota besar di Indonesia membuktikan bahwa pembaca koran kian tahun menurun. Tercatat pada 2015 hanya 15 persen, padahal tahun sebelumnya 25,1 persen. Begitu juga dengan majalah, pada 2006 pembacanya masih 25 persen dan kini tersisa 9 persen. Sangat jauh menurun. Sebaliknya, menurut Asmono, selaku Direktur Eksekutif SPS Pusat, menyebutkan bahwa pembaca koran dan majalah telah dikalahkan oleh pembaca internet. Pada 2015 mencapai 19,4 persen yang sebelumnya hanya 12,1 persen. Adapun televisi menduduki peringkat teratas dengan 93,4 persen.

Pengamat komunikasi turut angkat bicara. Ada dua pendapat berbeda. Pendapat pertama mengatakan bahwa koran akan tetap hidup, sekalipun media online kian menjamur. Alasannya, media cetak mempunyai konsumen khusus (generasi tua). Selain itu, informasi yang disajikan dinilai lebih kredibel. Pandangan lain menyebutkan bahwa pada 2040 koran cetak akan tutup seiring dengan perkembangan teknologi dan generasi tua yang digantikan oleh generasi muda.

Pengamat juga memprediksi kehidupan masa depan semakin canggih dan masyarakat sangat membutuhkan sesuatu yang sifatnya efisien. Dengan mengakses berita online, masyarakat dapat memperoleh berita secara gratis dan mudah, tidak seperti koran. Perusahaan pun dapat mengeluarkan budget produksi lebih ringan, jika dibandingkan dengan biaya produksi koran cetak.

Saya meyakini, koran cetak tak akan mati, meski pertumbuhannya kian terbatas sebagai dampak dari maraknya media online dan televisi yang menawarkan pemberitaan lebih menghibur pun sensasional. Koran dan media cetak akan tetap hidup, ketika berupaya untuk melakukan inovasi dan pengembangan kreativitas yang relevan sesuai zaman dan segmen pembacanya.

Kemunculan media online maupun televisi juga tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran koran dan media cetak lainnya, karena nyatanya masih banyak masyarakat merasa lebih nyaman melahap informasi dengan membaca koran. Tidak masalah sebetulnya seseorang lebih suka membaca media cetak atau media online, yang terpenting masih ada minat baca dalam dirinya dan setiap orang.

Oleh: Amelia Rizky Yunianty (Redaktur Online LPM Sketsa)