Lantas, Harus Seperti Apa?

Lantas, Harus Seperti Apa?

Jika Media Cetak Tak Ada Lagi?

Peringatan Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari, kembali mengingatkan sejarah panjang pergulatan dunia pers yang berawal dari terkekangnya hingga bebasnya pers Indonesia saat ini. Media pertama yang mengiringi masa-masa itu, adalah media cetak.

Media cetak atau seperti koran, majalah, tabloid dan lainnya mempunyai kekhasan tersendiri ketimbang digital. Di mana media digital elektronik mengedepakan who, where, when, media cetak ini lebih mendalami why dan how. Namun, survei yang dilakukan Ac Nielsen selama 5 tahun oplah Koran di Indonesia menunjukkan penurunan dari 28 persen (2005)  menjadi 18 persen (2009).

Tak perlu jauh-jauh mengamati, semisal di region Kaltim saja, media cetak seperti Kaltim Post, Tribun Kaltim, dan lainnya pun masih menempati hati bagi para pembacanya. Sensasi yang didapat ketika membaca koran tak sama membaca di layar monitor. Media cetak ini menawarkan kita untuk fokus membaca isi berita dan tak terpengaruh dengan iklan-iklan yang lalu lalang seperti di televisi, radio, pun internet.

Selain itu, kelebihan media cetak yang diketahui banyak orang adalah kita dapat menyimpannya jadi kliping. Sebagai bentuk kenang-kenangan, apalagi kegiatan itu melatih kesabaran pun keterampilan kita. Bisa jadi pada masa mendatang, ketika koran dan media cetak tak ada lagi, kliping yang dibuat itu menjadi berharga sebagai bentuk sejarah masa lalu. Kabar akan hilangnya salah satu media pelopor ini, diramalkan Philip Meyer penulis buku ‘The Vanishing Newspaper’, koran terakhir akan terbit pada 2040.

Namun, ramalan hanya ramalan. Itu semua hanya perkiraan, mengingat media digital ini mulai mendominasi generasi-generasi muda. Menanggapi hal tersebut, saya sebagai anggota Pers Mahasiswa (persma) di lingkup kampus, tak bisa mengelak ketika media digital mulai mendominasi kehidupan. Apalagi, demi menghasilkan keluaran berupa majalah kampus bukan hal mudah. Dana besar diiringi persiapan matang agar hasil yang didapat sebanding, hanyalah usaha dan ekspektasi yang berlebih.

Ya, bukan pesimis namun kenyataan memang kritis dan harus berpikir realistis. Terakhir kami menerbitkan media cetak pada 2014, terkendala dana pun minat baca terhadap media cetak di kalangan civitas kampus terbilang minim. Lihat saja Kaltim Post, seperti dilansir Senin (23/6/2014) lalu, mereka berinvestasi minimal Rp 15 miliar untuk mesin cetaknya. Alasannya seperti yang dikemukakan CEO Kaltim Post Ivan Firdaus, Kaltim Post sangat mengedepankan kualitas cetak koran, agar relasi pemasang iklan dan pembaca pun puas. “Khususnya lagi iklan nasional. Biasanya iklan nasional itu sangat selektif memerhatikan hasil cetak koran,” lanjutnya.

Pers Mahasiswa hanyalah lingkup kecil dunia pers. Meski fungsinya sama, namun tujuannya berbeda. Di luar sana media-media massa itu memberikan penghidupan bagi banyak orang, namun di persma kita dilatih untuk memahami kehidupan kecil pola media massa sebenarnya. Tak ada sisi komersialisme, meski ada tak sebesar seperti layaknya pers di luar sana.  

Jika kami tak menerbitkan satu pun majalah seperti tahun lalu, itu tak jadi masalah. Walaupun taruhannya, identitas pers itu adalah produk nyatanya yaitu cetak. Namun, apa daya jika semua tak semudah terlihat di mata. Kami masih bisa memanfaatkan media kami yang lain.

Namun, saya masih belum bisa membayangkan jika media cetak ini mulai tak ada di kehidupan masyarakat kita. Media cetak memiliki lebih banyak sektor yang terlibat di dalamnya, baik kalangan atas hingga bawah, dari CEO sampai loper koran, distributor dari berbagai pelosok daerah, dan lainnya. Lantas, jika pada masa mendatang sudah tak ada? Apa yang tersisa? Mungkin sedari sekarang, kita lebih menghargai arti media cetak dan siapa saja yang terlibat, serta bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi nantinya.

Jati Dwi Juwitaningrum (Redaktur Foto LPM Sketsa)

****

Akankah Sama-Sama Musnah?

Media cetak menampakkan dirinya pada 1833. Sudah tua memang, namun bagaimana geliatnya kini? Sebuah penelitian dilakukan oleh satu perusahaan pers di sembilan kota besar seperti Yogyakarta, Jakarta dan Surabaya membawa hasil yang cukup mencengangkan. Jumlah pembaca media cetak awalnya 25,1 persen. Kini turun menjadi 15 persen saja. Apa yang salah?


Seiring berjalannya waktu, kebutuhan manusia akan informasi kian tinggi. Butuh sesuatu yang cepat dan 'nyaris' tepat. Informasi via online memang secepat kedipan mata. Namun kebenarannya? Tanyakan saja pada sang penulis.


Dewasa ini, independensi semakin abu-abu. Hadirnya persma sebagai corong informasi kredibel pun sempat menuai kecaman berupa aksi pembredelan yang terjadi di Lembaga Pers Mahasiswa Lentera Universitas Kristen Satya Wacana (LPM Lentera UKSW) Salatiga dan Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Media Universitas Mataram (UKPKM Media Unram). Rektor itu makhluk berkepentingan. Entah kepentingan berpihak kepada siapa, seringkali misterius. 'Beliau' masih kurang paham akan pentingnya media independen nan 'jernih'. Sudah konvensional via media cetak digerus media online. Sudah independen, masih dibredel. Lantas? Akankah sama-sama musnah?

Annisa Fadiyah Daru Pacitanisragena (Pimpinan Redaksi LPM Sketsa)