Hari Pers Nasional: Satukan Jiwa Jurnalisme

Hari Pers Nasional: Satukan Jiwa Jurnalisme

Memperingati Hari Pers Nasional pada 9 Februari mendatang, wartawan Indonesia menghadapi tantangan besar. Salah satunya tantangan persatuan. Beberapa hari lalu, kalangan pers pasti tahu, sempat terjadi perdebatan hangat tentang eksistensi media cetak versus media digital atau online.

Dimulai ketika wartawan senior media nasional, Harian Kompas, Bre Redana menulis artikel berjudul “Inikah Senjakala Kami…” pada 28 Desember 2015. Dalam artikel tersebut, Bre menulis tentang masa depan media cetak yang semakin tergerus oleh keberadaan media online. Bre Redana juga menyindir kinerja wartawan media online yang disebutnya wartawan media mutakhir.

Tulisan Bre Redana menuai banyak tanggapan dari beberapa wartawan lainnya. Terutama wartawan media online. Seperti artikel balasan yang ditulis Bayu Galih dengan judul “Kami Tak Pernah Cengeng dan Bilang Ini Senjakala Kami”. Dalam tulisannya, Bayu Galih yang pernah bekerja di media online viva.co.id menuding Bre Redana sombong dan pesimistis.  

Membandingkan dua artikel yang ditulis oleh dua wartawan beda generasi dan pemikiran tersebut membuat kita tidak bisa berpihak. Keduanya benar. Bukan tanpa alasan Bre Redana menulis artikel yang disebutkannya mewakili perasaan wartawan media cetak. Apalagi tak dapat dimungkiri eksistensi media cetak memang kalah saing dengan media online. Hal ini dibuktikan dengan tutupnya sejumlah media cetak seperti Koran Sinar harapan, Jakarta Globe, Harian Bola, dan Koran Tempo edisi Minggu pada pengujung 2015 lalu.

Sebaliknya, Bayu Galih dengan artikel balasannya untuk Bre Redana juga mewakili suara wartawan media online yang dipojokkan dalam tulisan Bre Redana. Meski sebagai wartawan media online, mereka berusaha mengedepankan berita utuh dan cover both side atau berita berimbang.

Termasuk kami, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sketsa Unmul. Media yang ruang lingkupnya di kampus, juga tidak mengeluarkan media cetak sepanjang 2015. Pun dengan program kerja redaksi LPM Sketsa tahun ini, produksi majalah cetak 1:3 dengan majalah pdf (portable document format). Alasannya sama. Media online lebih diminati mahasiswa Unmul ketimbang media cetak. Kami lebih memilih majalah pdf yang diunduh ribuan kali oleh mahasiswa, daripada menerbitkan majalah cetak 500 ekslempar saja tidak habis terjual.

Kita semua berharap kejadian saling bantah artikel sesama wartawan tidak terjadi lagi. Saling mengkritik untuk perbaikan kualitas karya jurnalistik lebih baik daripada saling menuding hanya karena berbeda media. Sebagai pilar keempat demokrasi, sudah seharusnya pers bersatu dalam menjalankan fungsinya untuk menggiring opini publik dan kontrol sosial. Wartawan Indonesia harus bersatu dalam semangat jurnalisme yang sama. Mau apapun medianya. Selamat Hari Pers Nasional. Salam Pers Mahasiswa!

Oleh: Khajjar Rohmah (Reporter LPM Sketsa)