Eksibisionis: Cuek Saja, Jangan Teriak

Eksibisionis: Cuek Saja, Jangan Teriak

SKETSA - Sekitar awal Februari lalu, terjadi kasus mengejutkan di Unmul, terutama bagi mahasiswi. Tepatnya di area masjid, saat beberapa mahasiswi selesai melaksanakan salat, tertangkap pria yang diduga mengidap gangguan psikis atau eksibisionis.

Dijelaskan Lisda Sofia, dosen psikologi Unmul, gangguan itu belum banyak diketahui masyarakat luas, karena jarang sekali penderitanya. Merupakan salah satu penyimpangan seksual di mana pelaku mengalami rangsangan ketika memperlihatkan alat vitalnya kepada lawan jenis. Dilihat dari segi psikologi, pelaku bahkan merasa senang jika orang yang melihat aksinya berteriak ketakutan.

Penyebab eksibisionis tidak dapat diketahui secara pasti. Bisa terjadi karena faktor lingkungan dan trauma pada masa lalu. Pemahaman mengenai eksibisionis pun harus dirumuskan terlebih dahulu, karena hal tersebut terkait dengan penyimpangan seksual, bukan sekadar ingin memamerkan alat vitalnya semata.

"Eksibisionis berbeda dengan selfie yang dilakukan oleh wanita dengan memperlihatkan tubuhnya kepada orang lain. Sebab tujuannya untuk mendapatkan pujian dan menjadi pusat perhatian. Sedangkan eksibisionis pada umumnya hanya dialami laki-laki dewasa dan belum diketahui apakah hanya dilakukan bagi yang belum menikah atau sudah," ungkapnya. “Eksibisionis jangan disamakan dengan orang gila yang keliaran di luar, yang biasanya tidak memakai pakaian. Berbeda, itu karena memang akalnya tidak sampai," tambah Lisda.

Ketika berhadapan dengan pengidap eksibisionis, terutama perempuan sebagai korban, tindakan paling tepat yaitu jangan berteriak. “Dia akan senang apabila si korban berteriak, semakin kita tenang dan cuek, dia malah semakin tidak terangsang, ilfeel, dan pergi”.

Oleh sebab itu, penderita eksibisionis akan selalu mencari korban yang berteriak karena ketakutan dan jika tidak ada respon dari korban, ia akan mencari wilayah lain. (adl/snh/e3)