Boyong Juara Walau Masih Maba

Boyong Juara Walau Masih Maba

SKETSA - Mengikuti lomba pidato memang bukan yang pertama bagi Ajeng Ratmawati. Saat kelas XI SMA, ia juara dua pidato bahasa indonesia tingkat kota. Akhir Januari lalu, untuk pertama kalinya ia mengikuti pidato bahasa inggris mahasiswa tingkat Kaltim. Tak disangka, mahasiswa baru memboyong juara pertama.

Lomba yang diadakan Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kaltim untuk merayakan HUT ke-59 Kaltim, mengantarkan Ajeng terpilih sebagai 10 terbaik dari 24 peserta. Pidato yang ia bawakan dalam babak penyisihan bertema Young Generation Contribution through AEC Challenge. Diberi waktu seminggu, Ajeng memanfaatkannya untuk mencari ide materi dibantu beberapa teman.

“Sewaktu diumumkan menjadi 10 terbaik, sorenya dikasih tema untuk final dan besok paginya langsung final,” ujar dia. Ia sempat kaget dan tak punya persiapan. Tak masalah baginya membuat teks bahasa inggris, kendala terdapat dalam merumuskan ide. Ajeng sempat menyerah dan tak tahu harus menuangkan apa dalam pidatonya.

Sejak jam sembilan hingga dua dini hari, gadis kelahiran Samarinda itu menyelesaikan pidato yang ia beri judul Equalization of Education to a Better East Kalimantan. Minggu pagi menjelang final, Ajeng harus disibukkan lagi dengan persiapan kostum. Belum lagi materi pidato tak sempat ia print out. “Pokoknya enggak berharap banyak untuk lombanya, apalagi mikir idenya hanya semalam,” lanjut mahasiswi angkatan 2015 tersebut.

Mendapat nomor urut satu, lagi-lagi ia diserang panik. Ajeng harus tampil maksimal. Sebab, ia akan menjadi contoh bagi peserta selanjutnya. “Kalau jelek ya peserta pasti akan belajar dari kesalahan, kalau bagus ya mereka pasti akan lebih bagus lagi,” urainya.

Dalam pidatonya, mahasiswi prodi Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman (FKIP Unmul) itu mengajak pemuda untuk aktif apalagi sebagai generasi emas. Tidak melulu mengharapkan pemerintah, namun harus cerdas melihat peluang dan berkontribusi membantu pemerintah berbenah.

Bahkan, ia berhasil mengaduk emosi juri maupun penonton. “Saya menceritakan pengalaman pribadi sewaktu ikut program mengajar di daerah Muara Badak. Bagaimana kondisi anak-anak di sana,” terang Ajeng. Ia menceritakan sosok Rangga, bocah cilik yang memiliki cita-cita menjadi tukang tambal ban, mengikuti jejak sang ayah.

Rangga kecil takut bercita-cita tinggi. Dalam benaknya, ia hanya harus membantu ayah. Dalam pandangan Ajeng, pendidikan begitu penting dan harus merata. Sebagai pemuda tidak hanya banyak menuntut, namun juga aksi. Sekecil apapun asal positif.

Lelah terbayarkan saat juri mengumumkan siapa juara satunya. “Takjub lah, enggak nyangka. Apalagi mengingat sewaktu sudah mau menyerah dan ribet ngurus ini-itu,” urainya kemudian tertawa. Penyerahan hadiah akan dilakukan akhir Februari mendatang. “Diserahkan saat di panggung pawai pembangunan nanti,” tutup dia. (rdm/e3)